Purwakarta
Trending

Sampah di TPA Cikolotok Nyaris Penuh

DLH Bingung Anggaran Terbatas

PURWAKARTA, RAKA – Purwakarta tengah berada di persimpangan krusial pengelolaan sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikolotok, satu-satunya tumpuan akhir residu sampah kabupaten, kini berada di ambang batas kapasitas dengan tingkat keterisian mendekati 90 persen.

Di balik kondisi itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta harus bekerja sejak dini hari untuk menjaga wajah kota tetap bersih.

Kepala DLH Purwakarta, Erlan Diansyah, menyebut rutinitas kerja sudah dimulai sejak pukul 04.00 WIB.
“Target kami, sebelum jam tujuh pagi kondisi kota sudah bersih. Itu berarti armada dan petugas harus bergerak sejak subuh,” kata Erlan, Minggu (21/12).

Namun, upaya tersebut kerap berbenturan dengan perilaku sebagian masyarakat. Setelah sampah dibersihkan pada pagi hari, masih ditemukan warga yang kembali membuang sampah sembarangan. Situasi ini kerap berujung pada keluhan publik yang justru diarahkan ke DLH.

“Jam enam pagi sebenarnya sudah bersih. Tapi setelah itu ada lagi yang buang sampah, akhirnya kami yang dianggap tidak bekerja,” ujarnya.

Persoalan sampah Purwakarta tidak berhenti di jalanan kota. Di TPA Cikolotok, masalah jauh lebih kompleks. Selain hampir penuh, Kementerian Lingkungan Hidup telah dua kali melayangkan surat teguran agar TPA tersebut ditutup karena dinilai tidak lagi memenuhi standar pengelolaan.

Erlan mengungkapkan, sejak awal menjabat, pihaknya langsung berfokus menyelesaikan persoalan administratif dan teknis. Hingga kini, progres penanganan disebut sudah mencapai sekitar 80 persen. Namun, keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama.

“Anggaran perubahan baru turun di akhir tahun. Banyak pekerjaan teknis yang belum bisa kami selesaikan, termasuk penanganan sistem open dumping,” jelasnya.

‎Kondisi lapangan sempat memicu polemik ketika truk pengangkut sampah mengantre berjam-jam di TPA. Menurut Erlan, hal itu terjadi akibat kerusakan mendadak alat berat yang berfungsi meratakan sampah.

“Alat berat rusak saat sampah masuk. Kami harus mencari pengganti, dan itu memakan waktu. Antrean sampai dua atau tiga jam itu bukan keinginan kami,” katanya.

DLH mencatat, produksi sampah di Kabupaten Purwakarta mencapai sekitar 400 ton per hari. Namun, hanya 150 hingga 200 ton yang bisa diangkut ke TPA Cikolotok. Sisanya dikelola melalui TPS 3R dan TPS ST yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Darangdan, Tegalwaru, dan Bojong. “Yang masuk ke TPA itu sebenarnya sudah residu,” ujar Erlan.

Secara fisik, TPA Cikolotok memiliki luas sekitar 10 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 5 hektare sudah terpakai dan akan segera ditutup. Sisa lahan direncanakan menjadi TPA sementara, namun rencana itu kembali terbentur persoalan anggaran dan perizinan, termasuk rencana pemindahan alur sungai di area TPA.

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah keterbatasan armada dan sumber daya manusia. Saat ini, DLH Purwakarta mengoperasikan sekitar 70 unit kendaraan pengangkut sampah, sebagian besar dalam kondisi uzur. Alat berat di TPA pun rata-rata berusia lebih dari 15 tahun.

“Ekskavator dan dozer itu pengadaan 2009. Sekarang sudah sering rusak,” ungkap Erlan.

Dari sisi SDM, DLH memiliki sekitar 380 petugas lapangan, dengan total pegawai hampir 500 orang. Namun mayoritas petugas lapangan sudah berusia lanjut, sementara regulasi belum memberi ruang luas untuk perekrutan tenaga baru.

“Ke depan ini jadi pekerjaan rumah besar. Pengelolaan sampah butuh tenaga yang kuat dan konsisten,” katanya.

DLH berharap pada 2026 mendatang, Pemerintah Kabupaten Purwakarta dapat memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang lebih kuat, terutama untuk pembaruan armada, alat berat, serta penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (yat)

Related Articles

Back to top button