21 Ibu Hamil Darah Tinggi di Adiarsa

Dokter Penanggung Jawab PONED Puskesmas Adiarsa
Dadan Ramdani Jajuli

KARAWANG TIMUR, RAKA – Preeklampsia Berat (PEB) atau biasa disebut hipertensi dalam kehamilan masih menjadi kasus ibu hamil nomor satu di Puskesmas Adiarsa. Tercatat selama tahun 2019, terdapat 21 kasus PEB dari 63 kasus rujukan ibu bersalin di Pelayanan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas tersebut. Jumlah tersebut mendominasi kasus lainnya, diantaranya ketuban pecah dini, kelainan posisi plasenta, dan bekas caesar.

Dokter Penanggung Jawab PONED Puskesmas Adiarsa Dadan Ramdani Jajuli membeberkan, beberapa faktor resiko yang menyebabkan seorang ibu hamil mengalami hipertensi, tiga diantaranya yang menjadi faktor utama ialah hamil terlallu tua, hamil terlalu muda, dan hamil terlalu sering. Faktor resiko lainnya adalah pola hidup yang mencakup aktifitas dan pola makan sang ibu hamil.

Mengenai faktor resiko yang pertama, dia menjelaskan hamil terlalu tua adalah ibu yang hamil di atas usia 35 tahun. Dalam rentang usia ini organ-organ tubuh sang ibu hamil sudah terlalu rapuh untuk menerima kehamilan. Dicontohkannya, pembuluh darah yang mengalami penyempitan (aterosklerosis) rentan terjadi di usia tersebut, sehinga dapat menjadi faktor gangguan kehamilan. “Bukan hanya PEB, pendarahan juga bisa, infeksi juga bisa, yang paling sering memang PEB,” terangnya.

Faktor resiko kedua yakni hamil terlalu muda, adalah saat seorang ibu hamil pada usia di bawah 17 tahun. Sebabnya adalah organ-organ yang terlalu muda pada rentang usia tersebut, yang sebetulnya belum terlalu kuat namun dipaksakan menerima kehamilan. “Anak-anak remaja kan belum tumbuh dewasa organ kewanitaannya, organ seks sekundernya, dipaksakan untuk menerima kehamilan yang enam bulan itu menjadi beban tubuh,” paparnya.

Faktor resiko terakhir, terlalu sering melahirkan dalam artian interval waktu kehamilan yang terlalu dekat, maupun jumlah kehamilan di atas lima kali. Ia menjelaskan, dalam proses kehamilan ibu hamil menerima beban kehamilan selama 9 bulan. Apabila otot-otot rahim terlalu sering diberikan beban, akan memicu munculnya zat radikal bebas yang menyebabkan tekanan darah ibu hamil menjadi tinggi. “Rata-rata disarankan sekitar tiga tahun, empat tahun itu boleh hamil kembali, makanya ada program KB dua anak cukup mungkin salah satunya kesitu, mengacu kepada merencanakan kehamilan,” jelasnya.

Untuk mencegah terjadinya PEB, dia mengimbau kepada para calon ibu untuk merencanakan kehamilannya. Perencanaan kehamilan tersebut berkenaan dengan prediksi waktu dan tempat melahirkan, kesiapan kontrol selama masa kehamilan. Lebih dari itu, perencanaan kehamilan ini juga perlu dilakukan bahkan sebelum masa kehamilan dengan menjaga asupan nutrisi, melakukan suntik anti tetanus, dan edukasi tentang kehamilan. “Termasuk salah satunya menyikapi hipertensi ini sudah harus direncanakan sebelumnya, supaya nanti pas melahirkan itu siap melahirkan,” pungkasnya. (cr5)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *