Air Bersih jadi Barang Langka

Kekeringan Tahunan Desa Kertasari, Kecamatan Pangkalan

KARAWANG, RAKA – Deretan derijen berjajar di bawah mobil pikup yang membawa 6.000 liter air bersih. Bagi warga Desa Kertasari, Kecamatan Pangkalan air bersih menjadi barang langka. Kondisi ini, hampir setiap tahun terus berulang.
Kekeringan di Kecamatan Pangkalan seolah bukan lagi menjadi hal yang aneh, karena setiap kemarau di daerah tersebut kerap kekurangan air bersih. Kepala Desa Kertasari Anang Suparman menyebut, terdapat dua dusun di wilayah kerjanya yang kerap terdampak kekeringan. Dia meminta pemerintah maupun legislatif untuk membantu warganya yang kesulitan air bersih. “Kalau kekeringan tahun kemarin bisa sampai delapan bulan, tahun ini baru terjadi dari mulai awal Agustus kemarin,” ujarnya, Rabu (22/9).

Camat Pangkalan Usep Supriatna mengatakan, sebetulnya delapan desa di Kecamatan Pangkalan tergolong rawan kekeringan jika musim kemarau. Kecuali Desa Medalsari karena ada mata air dari Ciomas, Tamansari punya mata air Citaman, serta Tamanmekar yang mendapat bantuan dari salah satu perusahaan di daerah tersebut walaupun belum semua mendapatkannya. “Kalau musim kemaraunya panjang hampir semua desa berpotensi kekeringan, tapi kalau yang rawan banget ada enam desa,” ujarnya.
Usep berharap kedepannya di wilayah Pangkalan terdapat semacam bendungan penampungan air, hal itu sebagai antisipasi musim kemarau jika warga membutuhkan air. “Kalau bantuan pengiriman air itu kan istilahnya hanya untuk kebutuhan minum, tetapi masih kurang kalau untuk pertanian dan sebagainya,” ujarnya.

Ketua Tagana Kabupaten Karawang Yanuaris, mengaku sejak hari Minggu (19/9) sudah mendapat laporan permohonan air bersih dari Desa Tamanmekar dan Kertasari di Kecamatan Pangkalan. Pihak Tagana pun merespon laporan tersebut dengan mengirimkan air bersih ke Desa Kertasari sebanyak 6.000 liter. Menurut laporan dari Tagana, warga terdampak kekeringan di desa tersebut sebanyak 140 Kartu Keluarga atau 250 jiwa dengan luas lahan 50 hektare. “Air yang didistribusikan itu hanya untuk kebutuhan minum saja, soalnya kalau untuk MCK (mandi, cuci, kakus) masih ada,” tuturnya.

Yanuaris menyebut sejauh ini baru ada dua laporan untuk permohonan air bersih yang diterima Tagana. Dia mengaku pihak Tagana akan melakukan pengiriman air jika ada permintaan dari warga atau pemerintah desa. “Sampai saat belum ada permintaan lagi. Jadi di mana ada permintaan, kita siap bergerak,” ujarnya. (mra)