Buruh Tani tak Lagi Menarik

Pemuda Desa Lebih Memilih Jadi Buruh Pabrik

KARAWANG, RAKA – Kekinian, sulit ditemukan anak muda mencangkul di sawah. Atau sekadar memantau hasil panen. Maka wajar jika rata-rata para buruh tani atau pemilih lahan berusia lanjut. Pasalnya, kepedulian anak muda terhadap sawah sudah hampir tak ada, bahkan mungkin didahului rasa jijik dengan lumpur pesawahan. Sebagai aset Karawang, bidang pertanian khususnya sawah, perlu dipertahankan. Makanya perlu regenerasi agar nama Karawang tetap menjadi lumbung padi.

Seorang petani di Desa Darawolong, Kecamatan Purwasari, Agus Faisal (45) mengaku bangga dengan profesinya sebagai petani. Menurutnya apa yang dikerjakan petani bermanfaat untuk banyak orang, di kampung maupun di kota. “Tanpa petani kan gak ada sumber makanan, walaupun mereka banyak uang mau beli makanan apa,” tuturnya.

Ia menyadari setiap profesi mempunyai perannya masing-masing dalam kehidupan masyarakat. Ia sendiri telah bergelut dengan dunia tani sejak kecil, meneruskan warisan budaya buyutnya. Baginya bertani adalah sesuatu yang sudah tertanam di jiwanya. “Kalau ditanya sejak kapan bertani, ya semenjak saya bisa bekerja saya sudah tani,” ceritanya yang juga ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mandiri Desa Darawolong.
Dibalik rasa bangganya itu, ia merasa sedih melihat kebanyakan petani kurang sejahtera. Menurutnya salah satu faktor utama adalah pemerintah belum bisa menstabilkan harga, terutama di masa panen raya. Ia berharap pemerintah melakukan upaya yang bisa mensejahterakan para petani.

Seorang petani asal Desa Pulojaya, Dodi (56) mengatakan, jangankan bekerja sebagai kuli, selama dia ikut rombongan tandur, tidak pernah bertemu dengan pemilik sawah yang usianya muda. “Anak-anak sekarang mah hampir gak ada yang mau ke sawah. Jangankan buat kuli, kayaknya buat pegang lumpurnya pun gak mau,” ucapnya.

Ia melanjutkan, pemilik lahan sawah memang jarang anak muda, terlabih jika luasnya sudah hektaran. Namun setidaknya, orang tua si pemilik sawah ini bisa mengajak anaknya untuk ikut belajar bertani. “Di bidang lain perlu anak muda untuk meneruskan, di pesawahan juga perlu dong,” katanya.

Dia yakin jika digabung antara pengalaman orang tua dan pengetahuan anak muda, hasil panennya bisa lebih menguntungkan. Minimal jika sudah untung, area pesawahan di Karawang tidak banyak yang dijual dan bisa dipertahankan. “Kita kan masyarakat tani, ayolah anak muda ikut bertani. Kalau bisa jadi petani berdasi,” ucapnya.
Jika 20 hingga 30 tahun kedepan, katanya, Karawang sudah dipenuhi pembangunan, jangan salahkan pengembang. Karena mereka juga sama-sama usaha untuk memenuhi kebutuhannya. “Di sini kita juga perlu berusaha agar pesawahan yang menjadi identitas kita bisa terus dipertahankan,” pungkasnya.

Mahasiswa Agroteknologi Unsika Wangga Gunadi mengatakan, seharusnya generasi muda sadar betul akan peran dunia pertanian bagi kemajuan dan kemandirian negara Indonesia. Saat krisis ekonomi 1998 misalnya, sektor pertanianlah yang paling mampu bertahan untuk melewatinya. Begitupun saat ini di masa pabdemi Covid-19, sektor pertanian tidak akan pernah berhenti untuk berkontribusi. “Betapa hebatnya para petani yang tetap bertahan di ladang, untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi kita semua,” ucapnya. (psn)