Debit Air Bendungan Walahar Berangsur Turun

AMAN: Status debit air di Bendungan Walahar mulai aman.

KLARI, RAKA – Debit air Sungai Citarum di Bendungan Walahar mulai mengalami penurunan, setelah sebelumnya berstatus siaga satu yang menyebabkan sejumlah desa tergenang.

Anggota Koramil Klari Pelda Suryadi mengatakan, sejak satu minggu lalu, hujan kembali turun dan menyebabkan ketinggian air di ambang batas, bahkan petugas siaga satu untuk mengantisipasi luapan air. “Itu sejak awal minggu kemarin, bahkan yang gelombang pertama kita siaga satu karena air terus meningkat,” ucapnya kepada Radar Karawang, Senin (22/2).

Ia menambahkan, sampai sore kemarin ketinggian air sudah dikatakan membaik. Untuk Tinggi Muka Air (TMA) udik 18.75 meter di atas permukaan laut (mdpl), hilir 14.00 mdpl, buangan 32.823 meter kubik per detik (mkpd) dan limpasan 0.050 mkpd. “Setiap hari sebenarnya berubah-ubah, kalau untuk hari kemarin cukup aman karena permukaan air terus mengalami penurunan. Kemarin pagi saja buangan di angka 233.309 sampai sore 32.823 mkpd,” tambahnya.

Suryadi mengaku, bendungan daerah aliran sungai Walahar tersebut terdapat empat pintu. Hanya pintu ke empat yang ditutup dengan ketinggian air 20 cm. “Untuk saat ini hanya pintu ke empat saja, kalau kemarin sih kita buka pintu ke tiga dan ke empat bahkan sampai 80 cm, karena volume air yang begitu tinggi,” akunya.

Selain itu, dia bersama petugas lainnya ikut membersihkan tanaman air, salah satunya eceng gondok dan sampah yang terbawa arus dari hulu. Dia juga tetap melakukan pengamanan di lokasi tersebut, karena curah hujan masih dinilai tinggi.

Seorang warga Dusun Kalanganyar, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, Edo (35) mengakatakan, banjir yang terjadi pada tahun ini merupakan terbesar. Ia mengaku baru kali ini mengalami kebanjiran. Sehingga semua barang elektronik di rumahnya rusak akibat terendam banjir.

Selain barang elektronik, dokumen-dokumen penting seperti kartu keluarga, rapor sekolah anaknya, sertifikat tanah juga terendam. Dikatakan dia, banjir yang terjadi di wilayahnya disebabkan karena luapan air Sungai Citarum. Sehingga semua pemukiman sekitaran Tanjungpura ikut terendam.
“Tadi (kemarin) malam subuh jam 4 air datangnya. Langsung tinggi sampai dada,” ungkapnya.

Syaeful Rizki seorang anak kelas IV SD merasakan banjir di dalam rumah, merupakan kali pertama yang dialaminya. Meski awalnya merasa senang karena bisa bermain air di dekat rumahnya, tetapi kemudian ia merasa juga sedih lantaran rumahnya kebanjiran.
“Takut dan sedih. Karena di rumah banyak yang terendam,” katanya. (mal/nce)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka