HEADLINEMETROPOLIS

Elektabilitas Tinggi, Belum Tentu Menang

Jimmy Temui Nurlatifah

KARAWANG, RAKA – Pertarungan politik pemilihan bupati Karawang mulai terasa. Jika bakal calon bupati semisal Yesi Karya, Ahmad Jamakhsyari gencar melakukan penjajakan dan safari politik, berbeda dengan Cellica Nurrachadiana yang tampak adem ayem.

Sebut saja Yesi yang belakangan justru memilih pasangan dari kalangan selebritis, Adly Fairuz dibanding Firli Hanggodo Ganinduto. Sedangkan Ahmad Zamakhsyari menyambangi kediaman Nurlatifah di Cilamaya Wetan. Meski Jimmy mengaku pertemuannya hanya sebatas silaturahmi biasa, tapi aroma politiknya sangat kental. Mengingat Gina Swara masih ngotot ingin jadi bupati. “Iya hanya silaturahmi saja,” katanya melalui sambungan telepon, Minggu (2/8).

Dia melanjutkan, dalam pertemuan dengan istri mantan bupati Karawang, Ade Swara tersebut tidak ada pembahasan mengenai pencalonan dirinya dalam pilkada 2020. Dia menyerahkan pencalonannya ke DPP PKB.
“Tidak ada. Kemarin tidak ada pembahasan mengenai pilkada,” ucapnya.

Sementara itu, peneliti dari Social Policy and Political Studies (Sospol’s), Cecep Sopandi mengatakan, hasil jajak pendapat yang dilakukan Radar Karawang pekan lalu, yang menyebut Cellica Nurrachadiana menjadi nama yang paling banyak dipilih responden, adalah hal wajar karena diuntungkan oleh publisitas dan infrastruktur birokrasi yang menunjang. “Hal ini berbeda dengan calon lain di luar petahana yang harus bekerja keras untuk meraih pilihan publik,” katanya.

Meski demikian, ada 58 persen publik masih belum menentukan pilihan, kata Cecep, hal tersebut menjadi ruang pertarungan terbuka bagi para kandidat untuk meningkatkan elektabilitasnya. Kemudian kepuasan masyarakat pada kinerja pembangunan yang dilakukan oleh kepala daerah saat ini dinilai buruk, pasalnya ketidakpuasan masyarakat mencapai angka 60 persen. “Jadi kita bisa katakan saat ini petahana yang pasti maju itu Cellica dan Jimmy. Jadi di sana kita melihat bahwa kinerja petahana itu jelek,” kata Cecep asal Cilamaya.

Lebih lanjut, kenapa elektabilitas petahana tinggi, padahal mayoritas publik tidak puas dengan pembangunan yang dilakukan oleh Cellica dan Jimmy, menurut Cecep karena kandidat lain tidak banyak dikenal, sehingga tidak ada pilihan lain selain nama petahana. “Mereka tahunya Cellica dan Jimmy karena infrastruktur politik dan birokrasinya sudah terbentuk,” ujarnya.

Menurut Cecep, dalam teori umum di pilkada, seorang petahana itu bisa menang kalau tingkat kepuasan publik di atas 75 persen atau mayoritas masyarakat puas dengan kinerjanya. Sebaliknya jika angka kepuasan masyarakat di bawah mayoritas, potensi kemenangan tipis untuk petahana di pilkada yang akan datang. Dengan sisa waktu menjelang pelaksanaan pilkada 2020, Cecep menambahkan, kandidat lain perlu gencar meningkatkan popularitas dan memberikan ruang alternatif sebagai antitesa pilihan di masyarakat, sehingga bisa memberikan perspektif baru untuk bisa mengambil hati masyarakat, terlebih lagi di situasi pandemi Covid-19 ini. “Kandidat dituntut untuk bisa memberikan solusi cerdas dalam menanggulangi Covid-19 dan sekaligus dampak ekonomi, sosial, politik yang menyertainya,” pungkasnya. (nce/mra)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Verified by MonsterInsights