Dinkes Kesulitan Tracking HIV/AIDS, Deteksi Dini Bisa di Puskesmas

"Kalau kita menjaring itu kan harus mengetahui tempatnya dulu." Kepala bidang P2P Yayuk Sri Rahayu

KARAWANG, RAKA – Dinas Kesehatan (Dinkes) kesulitan melakukan tracking untuk penderita HIV/AIDS. Padahal, 50 puskesmas sudah bisa digunakan untuk deteksi dini penderita.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang Endang mengungkapkan, untuk menangani kasus HIV/AIDS telah melakukan kolaborasi dengan komisi penanganan AIDS. Ia mengaku mengalami kesulitan untuk melakukan tracking kepada masyarakat yang menderita penyakit tersebut. Masyarakat harus mulai meningkatkan kesadaran untuk melakukan tes agar mempermudah dan mempercepat proses penanganan. “Teman-teman yang terpapar ini masih suka tidak ingin memeriksakan ke puskesmas atau rumah sakit, itu yang menjadi penyebab utama kami mengalami kesulitan untuk proses tracking,” ujarnya, pada Kamis (29/9).
Saat ini Dinkes belum mengetahui lokasi berkumpul yang dapat menyebabkan penyakit tersebut muncul. Ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan pemakaian jarum suntik secara bergantian. Ia akan melakukan mapping dan tracking kepada masyarakat yang telah terpapar. “Kalau kita menjaring itu kan harus mengetahui tempatnya dulu, sedangkan mereka ini kan masih bersembunyi dan kamu belum mengetahui lokasinya,” tambahnya.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Yayuk Sri Rahayu menambahkan, Dinkes telah melakukan peningkatan pelayanan penyakit HIV/AIDS. Sebanyak 50 puskesmas dapat melakukan deteksi dini penyakit ini. Jumlah keseluruhan itu, hanya sebanyak 7 puskesmas yang dapat memberikan penanganan penyakit tersebut. Kemudian ada 2 rumah sakit yang dapat memberikan penganan penyakit ini. “Untuk proses deteksi dini bisa dilakukan di 50 puskesmas, kemudian hanya ada 7 puskesmas yang bisa memberikan penanganan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang dan Rumah Sakit Dini yang bisa memberikan penanganan,” lanjutnya.
Proses selanjutnya yakni memperluas jejaring puskesmas dan rumah sakit yang dapat memberikan penanganan untuk penyakit tersebut. Pada Oktober 2022 akan diberikan pelatihan untuk 11 puskesmas. Hal ini bertujuan agar adanya penambahan tempat untuk menangani penyakit. “Kami akan melakukan perluasan semua rumah sakit dan puskesmas dapat memberikan penanganan. Insyallah akan bertambah 11 puskesmas yang dapat melakukan Perawatan Dukungan Pasien (PDP),” imbuhnya.
Kriteria masyarakat yang akan dilakukan deteksi dini yakni ibu hamil dan pasangan usia produktif. Penderita TB pun dapat menderita penyakit tersebut. Pengobatan dimulai dengan melakukan konselling. Tes untuk pelajar hingga saat ini belum dilaksanakan. “Semua ibu hamil dan calon pasangan usia produktif melakukan tes rapid HIV,” tutupnya. (nad)

Tinggalkan Balasan