Drainase Buruk Biang Keladi Genangan

HINDARI GENANGAN AIR: Sejumlah siswa SMAN 1 Jatisari sedang menerabas genangan air di sekitar sekolah. Ini menjadi pemandangan umum setiap musim hujan dan terus dibiarkan.

KARAWANG, RAKA – Banjir di Karawang disebabkan oleh dua hal. Luapan air sungai dan rusaknya drainase. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah sumur resapan. Di Desa Jatisari, Kecamatan Jatisari misalnya, setiap hujan pasti tergenang.
Sopir angkutan umum Cikampek-Cilamaya Nanang mengatakan, pihaknya sangat miris dengan kondisi saluran air yang berada di wilayah Desa Jatisari, padahal lokasi saluran tersebut tepat berada di samping balai desa. “Saya juga tidak habis fikir kenapa ada masalah di depan mata tapi dibiarkan begitu saja,” ucapnya kepada Radar Karawang
Ia menambahkan, yang lebih mengkhawatirkan lokasi jalan yang tergenang karena luapan air selokan tersebut merupakan akses bagi siswa SMAN 1 Jatisari untuk memasuki gerbang sekolah, tentunya hal itu sangat menyulitkan para siswa dan guru. “Bagaimana kalau mereka terpeleset saat melintas baik jalan kaki maupun saat menggunakan motor, masa mereka harus basah-basahan masuk kelas,” tambahnya.
Begitu pula di Desa Wancimekar dan Desa Pucung, Kecamatan Kotabaru, selalu banjir karena saluran air tidak bisa menampung debit air, sehingga genangan air tak terhindarkan. “Kalau hujan deras di jalan perbatasan Desa Wancimekar dan Pucung ini, tepatnya di dekat sasak (Jembatan) gombreng, pasti selalu banjir,” ucap Kusdi (37) warga Desa Pucung.
Ia menambahkan, penyebab terjadinya banjir karena jalan tersebut berada di dataran rendah. Sedangkan, saluran air dari Pasar Cikampek, Desa Wancimekar dan Pucung. Saluran airnya melewati sungai sasak gombreng, sehingga saluran airnya tidak tertampung. “Soalnya, jalan berada di bawah (pas turunan). Terus saluran air dari Cikampek juga melintasi jalan ini. Makanya, setiap hujan deras sering banjir,” katanya.
Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Karawang Fitri Meilinda mengatakan, genangan air yang cukup tinggi sering terjadi terutama di jalan-jalan utama seperti Cikampek, Purwasari, Warungbambu dan Johar. Kondisi tersebut sering terjadi pada saat musim hujan. “Saya kira masalahnya ada pada drainase yang kurang berfungsi optimal,” ujar Fitri saat dihubungi Radar Karawang.
Dikatakan Fitri, meski genangan air terjadi dalam durasi satu hingga dua jam, namun hal tersebut sangat berdampak kepada masyarakat, terutama pengguna jalan. Seringkali kendaraan pengguna jalan mengalami mogok akibat menerobos genangan air. Bahkan di Cikampek terdapat rumah yang juga ikut terendam saat air menggenangi jalan. “Masalah ini tidak boleh dianggap sepele, karena dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah daerah melalui instansi terkait harus segera melakukan upaya pengoptimalan kembali fungsi drainase,” ujarnya.
Menurut dia, kurang optimalnya fungsi drainase dapat disebabkan oleh dua hal. Pertama terkait sistem drainase, baik dari perbandingan antara ketinggian drainase dengan sungai yang menjadi muara bagi air dari drainase. “Atau kondisi kebersihan drainase, yang kerap ditemukan sampah yang menyumbat aliran air,” ujarnya. (nce/fjr/psn)

Tinggalkan Balasan