Kapten Masrin Kibarkan Merah Putih Sebelum Proklamasi

Karawang Lebih Dulu Merdeka

KARAWANG, RAKA – Hari ini Kabupaten Karawang berulang tahun ke-388 tahun. Banyak peristiwa penting terjadi di Kota Pangkal Perjuangan ini. Satu diantaranya yang paling dikenal banyak orang adalah, menjadi tempat ‘pengamanan’ Soekarno-Hatta sebelum memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Dalam peristiwa sangat bersejarah tersebut, ada sosok yang sangat berperan penting dalam skema pengamanan dalam melindungi Soekarno beserta rombongan. Dia adalah Kapten Raden Masrin Muhammad bin Raden Haji Hasan Muhamad bin Raden Haji Yasin Muhammad. Seorang pribumi yang saat itu menjadi pimpinan Pembela Tanah Air (Peta) di Rengasdengklok. Atas perannya itu, Kapten Masrin pun dianugerahi tanda jasa Pahlawan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1958. Juga penghargaan dari Kementerian Pertahanan Staf Angkatan Darat saat itu.

Diceritakan Wiwin Winara Masrin (65), anak keempat Kapten Masrin, ayahnya merupakan sosok yang berpengaruh dalam detik-detik kemerdekaan Indonesia. Jauh sebelum kedatangan Soekarno beserta rombongan pada 15 Agustus 1945 di Rengasdengklok, Kapten Masrin sudah membuat peta daerah darurat Republik Indonesia untuk kurun waktu 14 Mei 1945 sampai 16 Agustus 1945.
Dalam keterangan peta itu, digambarkan beberapa simbol batas kabupaten, sungai, irigasi, jalan raya provinsi, jalan kereta api besar dan kecil, jalan daerah, batas wilayah RI darurat serta simbol pertahanan.

Kedatangan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, kata Wiwin sudah diatur jauh-jauh hari. Hal itu bisa dilihat dari peta daerah darurat RI yang dibuat oleh bapaknya. Kata dia, saat itu Rengasdengklok merupakan tempat paling aman, bahkan di Kantor Kawedanan Rengasdengklok digelar upacara penurunan bendera Jepang, kemudian pengibaran bendera merah putih pada 14 Agustus 1945.

Kapten Masrin kemudian mengumpulkan orang-orang di Rengasdengklok untuk mengikuti upacara tersebut. “Sebelum Soekarno membacakan teks proklamasi di Jakarta, kemudian disebarluaskan RRI, bendera Merah Putih sudah berkibar di Kewedanan Rengasdengklok sebelum 17 Agustus 1945,” jelasnya kepada Radar Karawang, Senin (13/9).

Lebih lanjut dia menjelaskan, setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945 situasi Rengasdengklok sudah aman. Saat itu pemerintahan Jepang sudah dipasrahkan kepada orang asliRengasdengklok, termasuk di bawah pimpinan Kapten Masrin. Tidak ada pertumpahan darah kala Jepang menyerahkan kekuasaan wilayah Rengasdengklok.
“Jadi sebetulnya sebelum 17 Agustus 45, Rengasdengklok sudah merdeka, makanya kan Karawang ini disebutnya pangkal perjuangan,” imbuhnya.

Kemudian Wiwin mengatakan, saat Bung Karno datang ke Rengasdengklok, para pemuda yang tergabung di Peta meminta Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan RI, daripada harus menunggu kemerdekaan yang dibentuk oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
“Makanya pada waktu itu pemuda ingin Indonesia merdeka pada 17 Agustus 45,” katanya.

Selain situasi Rengasdengklok sudah aman. Kedatangan Soekarno dan Hatta bukanlah suatu yang tiba-tiba. Tapi juga antara Soekarno dengan orangtua Kapten Masrin, sudah punya hubungan emosional, lantaran mereka sempat satu organisasi, yaitu Sarekat Islam (SI). “Yang paling dekat dengan Bung Karno itu kakaknya Pak Masrin yaitu Padmi Dinata. Jadi kedekatan Soekarno dengan Haji Hasan Muhamad itu sudah lama,” bebernya.

Wiwin mengenang sosok ayahnya yang sederhana. Kepada keluarganya, ia tak pernah bercerita bahwa ia seorang pejuang. Ia justru tahu dari rekan-rekan veteran yang kerap menyambangi rumahnya. Saat Kapten Masrin berpulang, Wiwin duduk di sekolah menengah pertama. Saat itu ia bertanya-tanya selepas upacara 17-an, di rumahnya selalu banyak veteran yang datang. (mra)