Sesak Nafas, Meninggal di Halaman Puskesmas

MEDIASI PENYEBARAN VIDEO: Keluarga pasien mediasi dengan Kepala UPTD Puskesmas Klari Sondang Tampubolon terkait kasus tudingan penelantaran pasien melalui video yang disebar di media sosial, kemarin (kiri).

KLARI, RAKA – Beberapa hari terakhir ini jagat maya dihebohkan oleh video keluarga pasien yang marah-marah, karena menganggap petugas kesehatan Puskesmas Klari tidak memberikan pelayanan medis. Dalam video berdurasi 4.35 menit itu, salah satu keluarga pasien meminta agar petugas kesehatan segera memeriksa kondisi kerabatnya yang sedang sesak nafas di bak mobil pick up. Kemudian, dia menyebut pasien sudah tidak bernyawa karena ditelantarkan petugas kesehatan. Dalam video juga ditayangkan pasien yang tampak tidak bergerak, ditemani oleh dua orang perempuan yang sedang menangis sejadi-jadinya. Peristiwa itu terjadi Sabtu (31/7). Itu terungkap saat UPTD Puskesmas Klari dan keluarga pasien melakukan mediasi, terkait penyebaran video tersebut, Senin (2/8).

Kepala UPTD Puskesmas Klari Sondang Tampubolon mengatakan, sejak Sabtu (31/7) lalu salah satu warga Dusun Rawawungu, Desa Kiarapayung, Kecamatan Klari, meninggal di halaman UPTD Puskesmas Klari. “Karena korban yang bernama Atem (51) ini mengalami sesak nafas,” ucapnya kepada Radar Karawang, Senin (2/8).

Ia menambahkan, dari kejadian tersebut pihak keluarga korban melakukan aksi protes, karena pihak Puskesmas Klari dianggap tidak melakukan penanganan. Padahal petugas kesehatan sudah melakukan tes swab terlebih dulu kepada korban, mengingat korban memiliki indikasi paparan Covid-19. “Karena memang sudah SOP-nya seperti ini. Kita harus melakukan penanganan khusus bagi warga yang diduga terdampak Covid-19,” tambahnya.

Ia mengaku, kasus tersebut merupakan bentuk kesalahpahaman keluarga korban, yang menduga bahwa pihak petugas tidak melakukan penanganan. Penanganan swab juga dilkukan di halaman kantor pelayanan, mengingat pada hari itu sedang dilakukan pelayanan vaksinasi. “Jadi keluarga korban yang memvideokan itu dia tidak tahu bahwa kita melakukan penindakan, dan saya menyayangkan kenapa keluarga korban yang tahu kita melakukan penanganan, tidak bilang juga sama keluarga yang memviralkan kita.” akunya.

Masih dikatakannya, saat mediasi berlangsung, Pemerintah Kecamatan Klari, kepolisian dan Pemerintah Desa Kiarapayung juga hadir. Hal itu untuk memastikan bahwa informasi yang tersebar berbentuk rekaman video tersebut tidak benar. “Pihak keluarga korban juga hadir di sini, karena kita ingin mereka tahu yang sebenarnya. Jangan ada kesalahpahaman, apalagi menganggap kalau kita tidak ada penanganan, itu sangat tidak benar,” katanya.

Sementara itu, keluarga korban, Endi (25) membenarkan kejadian tersebut. Dia menyebarkan berita berupa rekaman video tersebut melalui akun Facebook. Namun setelah melakukan mediasi, pihaknya mengerti bahwa tindakan medis terhadap pasien yang diduga terpapar Covid-19 harus menempuh SOP yang sudah ditentukan. “Karena pada saat itu saya juga emosi, saya juga tidak tahu ada penindakan, karena keluarga yang lain tidak bilang. Tapi saya juga memohon maaf sudah menyebarkan berita tanpa mengetahui secara utuh. Yang pasti kita sudah ambil jalan tengahnya, yaitu dengan saling meminta maaf karena mis komunikasi ini,” pungkasnya. (mal)