HUT Karawang Diguyur Hujan

TARIAN KHUSUS UNTUK BUPATI: Empat orang melakukan tarian Dangiang Subang Larang saat HUT Karawang di area Plaza Pemkab Karawang, kemarin.

KARAWANG, RAKA – Tepat pada hari jadi Karawang yang ke-388, hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Karawang sejak pagi hingga siang hari. Alhasil, apel besar peringatan hari jadi Kota Pangkal Perjuangan di halaman pemda sedikit terkendala. Namun apel tetap digelar depan kantor pemda. Tarian Dangiang Subang Larang menjadi pembuka apel tersebut.

Asep Setiawan yang menjadi tokoh Pamanah Rasa dalam tarian tersebut mengatakan, tarian Subang Larang ini merupakan tarian khusus untuk Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana. Tarian tersebut ditampilkan hanya ketika di dalam acara tersebut ada bupati saja.
“Khusus untuk ibu bupati. Kalau bukan ibu bupati yang minta gak bisa,” katanya kepada Radar Karawang usai tampil pada hari jadi Karawang.

Asep mengatakan, tarian Dangiang Subang Larang sudah terbentuk sejak tahun 2015 lalu dibawah asuhan Disparbud Karawang dengan personel yang tetap, yaitu tokoh Pamanah Rasa, Subang Larang, pesilat dan penari.
“Penari inti 5 orang tidak bisa diganti. Kalau pesilat kadang 4 kadang 8 orang,” jelasnya.

Ketika awal dibuat, kata dia, latihan untuk tarian tersebut cukup lama. Hampir satu bulan. Karena sering ditampilkan, persiapan sebelum tampil pada hari jadi Karawang ini kurang lebih tiga hari.
“Personelnya ada pelajar ada juga yang sudah lulus. Kami sangat senang bisa terlibat di HUT Karawang,” ucapnya.

Meski bukan kali pertama membawakan tarian tersebut, Indira Azaela yang berperan sebagai tokoh Subang Larang mengaku tegang dan grogi saat hendak tampil. Terlebih medan tampil pada peringatan hari jadi Karawang tahun ini sangat berbeda, ia menari di atas permukaan lapangan yang basah karena guyuran hujan.
“Kali ini berbeda. Ada perjuangannya karena hujan lapangannya basah,” ujarnya.

Indira yang memiliki kegemaran pada tari jaipong sejak masih duduk di bangku SD ini mengaku sangat bangga bisa membawakan tarian Dangiang Subang Larang. Sebab, tarian ini adalah tarian khusus untuk bupati Karawang. Dirinya hanya tampil membawakan tarian tersebut atas permintaan atau kegiatan bupati saja.
“Tari wajib Bu Celli. Hanya boleh ditarikan kalau Bu Celli ada,” ungkapnya.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana mengatakan, apel besar ini diikuti oleh para kepala OPD secara langsung, dan juga secara virtual di 30 kecamatan dan masing-masing OPD. Apel peringatan hari Karawang yang ke-388 ini digelar secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Meski di tengah hujan yang masih mengguyur apel tetap dilaksanakan.
“Hujan yang turun ini sebagai berkah. Semoga rasa cinta terhadap tupoksi dari para pegawai pemerintah semakin meningkat,” katanya.

Dikatakan bupati, meski pandemi Covid-19 mewabah selama satu tahun lebih, tetapi berbagai program yang telah disusun mulai berjalan. Saat ini Pemda Karawang masih terus berupaya menekan laju penyebaran Covid-19.

Menurutnya, pandemi yang mewabah sejak tahun 2020 lalu memang sangat dirasakan, dan merugikan banyak pihak dengan adanya kebijakan pembatasan-pembatasan.
“Sempat menyentuh nol kasus, tapi kemudian tinggi lagi. Tapi dari hasil ijtihad dan peran semua pihak secara bertahap bisa bangkit. Saat ini sudah berminggu-minggu Karawang berada di level dua dengan zona hijau dengan resiko rendah,” ujarnya. (nce)