Kadar Oksigen Terancam Polusi

KARAWANG, RAKA – Warga kota dalam tahun-tahun kedepan harus siap menghadapi cuaca panas, udara buruk, dan penyakit pernafasan semisal infeksi saluran pernapasan akut (Ispa).

Selain kualitas udara buruk, jumlah pepohonan pun minim. Parahnya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang tidak mengetahui berapa jumlah pohon di Kabupaten Karawang.

Di sepanjang Jalan Ahmad Yani misalnya. Jumlah pohon bisa dihitung dengan jari. Padahal, intensitas kendaraan yang melintasi jalan tersebut sangat ramai terutama pada pagi, siang dan sore hari. Begitu juga di Jalan Lingkar Tanjungpura-Klari, terlihat gersang. Jika kondisi ini dibiarkan begitu saja, berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat kota. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan dan Konservasi Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang Guruh Sapta mengakui tidak ada yang menyebutkan berapa jumlah pohon di Karawang. “Iya sepertinya kita belum ada data hasil kajian tersebut,” katanya kepada Radar Karawang, Rabu (26/9) kemarin.

Ia melanjutkan, seharusnya pepohonan di wilayah kota memiliki daya serap karbondioksida yang kuat, sehingga menghasilkan kesejukan. “Oksigen untuk keperluan masyarakat juga terpenuhi,” tuturnya.

Menurutnya ada dua jenis pohon yang bisa memperbaiki kualitas udara di perkotaan, yaitu beringin dan cassia. “Sementara sekarang kita masih konsen pohon produksi, tapi kalau dinas lain sudah melakukan,” katanya.
Ketua Komunitas Pohon Indonesia (KPI) Abdullah Syukur mengungkapkan, masyarakat cenderung kurang memahami manfaat menanam pohon. Mereka rata-rata tak menyadari, pohon maupun tanaman lain menghasilkan oksigen yang dibutuhkan. “Manusia membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari. Pohon-pohon keras terutama menghasilkan oksigen besar, seperti trembesi dan bambu,” ujarnya.

Syukur menjelaskan, trembesi dan bambu merupakan penghasil oksigen terbesar. Dia menyebutkan, satu pohon trembesi atau bambu mampu memproduksi oksigen 1,2 kilogram per hari. Dengan kata lain, satu pohon bambu atau pun trembesi dapat menyuplai kebutuhan oksigen bagi dua orang setiap harinya. Sayangnya, sekalipun dibutuhkan, produksi oksigen menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat untuk menanam pohon. Tantangan itu, lanjutnya, semakin berat kala menilik pesatnya pembangunan di kawasan perkotaan. “Pembangunan yang tinggi terkadang menggusur ruang terbuka hijau, ditambah lahan kota kerap kali terbatas. Penebangan terhadap pohon dilakukan, ini sama saja dengan menghilangkan oksigen,” tuturnya. (apk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here