Kangen Sekolah Lagi

Rindu Main dengan Teman-teman

KARAWANG, RAKA – Wabah corona di Kabupaten Karawang menimbulkan dampak psikis yang kurang baik bagi masyarakat. Mereka dilanda kepanikan bahkan kebosanan karena harus tetap diam di rumah selama pandemi berlangsung. Semua itu demi menekan penyebaran wabah. Termasuk anak-anak. Sejak tanggal 16 Maret 2020, mereka dipaksa belajar di rumah. Suasana belajar yang tidak biasa itu membuat mereka jenuh, malas dan bosan. Kebahagiaan yang biasa mereka rasakan saat berkumpul dengan teman-temannya di sekolah sirna. Nasihat para guru pun tak lagi terdengar lantang. Bahkan, masa libur Idul Fitri tidak lagi mereka nikmati. Semuanya biasa saja, hambar.

Kesimpulan itu diperoleh setelah Radar Karawang mewawancarai 50 anak dari berbagai sekolah dasar di Kota Pangkal Perjuangan. 33 laki-laki, 17 perempuan. Usia mereka 7 hingga 12 tahun. Ada tiga pertanyaan yang ditanyakan, yaitu bagaimana liburannya? Apa yang dikerjakan? Dan apakah kangen sekolah? Hasilnya, 83 persen mengatakan liburan saat ini membosankan, 27 persen merasa senang. Selama di rumah, 86 persen mengaku main games, 6 persen membantu orang tua, dan hanya 8 persen saja yang benar-benar belajar. Sedangkan 100 persen responden mengaku kangen sekolah.

Zufar Saki Ramadan (8) misalnya, anak yang duduk di bangku kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah Al Barokah, Desa Pangulah Baru, Kecamatan Kotabaru, mengaku kangen dengan teman-temannya di sekolah. Menurutnya belajar dengan temen-temen di sekolah lebih menyenangkan. “Ingin cepet-cepet sekolah lagi. Kalau di rumah sukanya main,” katanya kepada Radar Karawang, Senin (1/6).

Rafi Akmal Ramadani (11) kelas 6 SDN Purwasari II mengaku liburannya membosankan karena tidak bertemu dengan teman di sekolah. Selama liburan, dia habiskan waktu dengan main game, nonton televisi dan main bersama teman-temannya di rumah. “Kangen sekolah, gurunya baik gak marah. Kangen main sama teman-teman juga di sekolah,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Aflah Aliyul Wafi (12). Anak yang duduk di bangku kelas 6 SDN Wanasari I itu mengaku ingin cepat belajar di sekolah. Selama masa pandemi, dia bosan belajar di rumah. “Kalau ada tugas ya ngerjain tugas, kalau gak ada paling main game,” tuturnya.

Beda halnya dengan Rina Dwi Pangestuti (12), kelas 6 SDN Purwasari II. Selama liburan banyak membantu orang tuanya. Semisal menyapu rumah, mencuci piring. “Tapi tetap jenuh gak ada kegiatan,” katanya.

Sedangkan Puspa Ayu Nuraini (11) kelas V SDN Purwasari IV mengaku selama belajar di rumah, dia juga memanfaatkan hal itu untuk memaksimalkan puasanya. “Liburannya senang, bisa lama. Puasa juga full. Tapi bosan gak ketemu teman,” katanya.

Satria F Abqary (9) siswa kelas 3 SDN Rawagempol Kulon 1 mengatakan ingin cepat belajar di sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. “Masuk sekolah kapan sih? Mundur-mundur terus,” ujarnya.

Belajar di rumah juga ternyata membuat uang jajan mereka tidak seperti biasanya. Rohimatul Syadiah (11) siswa kelas 5 SDN Telagasari 1 misalnya. Dia mengaku selama masa pandemi ini uang jajannya berkurang. “Libur sekolah rugi, gak dapat uang jajan. Dikasih uangnya sedikit,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Mutiara Latifah (7) kelas 1 SDN Telagasai 1. Selain kangen dengan gurunya, uang jajannya juga dikurangi. “Ingin sekolah biar punya uang jajan dan pakai baju baru,” katanya.

Sementara Ainum Marwah (8) kelas 2 SDN Wancimekar 1 mengatakan, awalnya senang bisa libur lama dan tidak harus ke sekolah setiap hari. Tapi setelah berminggu-minggu di rumah, rasa bosan menghampirinya. “Kalau liburnya kelamaan mah jadi bosan. Kangen sama teman dan guru-guru di sekolah,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang Asep Junaedi mengatakan, karena berbadengan dengan libur kenaikan kelas, maka libur sekolah sampai tanggal 13 Juli 2020. Menurutnya jika kegiatan sekolah berjalan seperti biasa, harus tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona. Selain dianjurkan untuk menggunakan masker, rencananya kegiatan belajar mengajar juga akan dibuat dua shift karena harus diterapkan jaga jarak. “Satu kelas maksimal 20 orang. Solusinya dibuat dua shift,” tuturnya. (mal/din/nce/acu)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *