Kelompok Wanita Tani Tangguh

SEMANGAT BERTANI: Emak-emak di Kampung Telukmungkal, Kelurahan Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat, tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Pohaci tampak bersemangat bertani.

KARAWANG, RAKA – Jika biasanya ibu-ibu yang sudah berumur tua lebih memilih mengurus anak di rumah, beda dengan emak-emak di Kampung Telukmungkal, Kelurahan Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat, gemar menanam sayuran dalam tiga bulan terakhir. Bahkan proses dari pembibitan benih hingga panen mereka lakukan secara mandiri. Emak-emak ini tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Pohaci.

Sang ketua, Ocah Khodijah (50) mengaku awalnya hanya ibu rumah tangga yang berkutat dengan urusan sumur, dapur, dan kasur. Selama tiga bulan ini ia bersama anggota aktif bertani, bukan hanya sayuran melainkan juga tanaman rempah, obat-obatan keluarga, dan juga buah. “Ini bukan untuk keuntungan, tapi untuk kemajuan saja. Hasil panennya dijual dan uangnya disimpan untuk kita juga untuk menanam lagi,” terangnya.

Selama tiga bulan terbentuk, emak-emak ini sudah bisa panen sebanyak tiga kali dari berbagai macam tanaman yang berbeda. Salah satunya adalah panen jagung. Dengan kegiatan ini ia berharap emak-emak di lingkungannya tidak sekadar menjadi ibu rumah tangga, melainkan punya kegiatan positif lainnya yang produktif. “Selain jual sayur hasil panen, kita juga jual bibit dari hasil pembibitan kita,” tambahnya.

Anggota KWT Dewi Pohaci, Misnah (48) mengaku sebelumnya tidak punya pengalaman bertani. Namun setelah mengikuti pelatihan dan melakukannya setiap hari, semua proses bercocok tanam ini dirasa mudah. Setiap pagi ia menjalankan tugasnya di kebun, seperti membersihkan hama atau menyiram tanaman.

Selain mendapat ilmu dan pengalaman baru, silaturahmi antara emak-emak di kampung ini semakin terjalin. Mereka juga kerap berkimpul dan makan bersama yang menjadi hiburan tersendiri bagi emak-emak ini. “Harapannya dapat berjalan seterusnya, panen terus, jangan bosen,” ucapnya.

Penggagas KWT Dewi Pohaci, Sutono mengatakan, sejak dibentuk tiga bulan lalu program ini mendapat respon baik, dan dukungan dari masyarakat dan pemerintahan setempat. Perjuangan para emak-emak dari nol tanpa adanya pengetahuan dasar bertani dikatakannya tidak sia-sia. Kegiatan ini dilakukan secaara sukarela tanpa ada paksaan. “Mudah-mudahan tambah maju dan tambah kreatif ibu-ibunya,” harapnya. (psn)