Keluarga Benteng Narkoba

Putrie Dimala

KARAWANG, RAKA – Keluarga menjadi faktor utama untuk membentengi anak-anak agar tidak terjerumus narkoba. Perhatian orang tua dan keluarga akan membuat anak berpikir dua kali untuk berbuat nakal.

Kenakalan remaja secara umum dipengaruhi oleh lingkungan sosial, tak terkecuali penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja. Pergaulan yang tidak terkontrol karena kurangnya pengawasan orang tua menjadi faktor utama mereka terjerumus dalam penggunaan obat-obatan terlarang. “Sehingga anak tersebut perilakunya tidak terkontrol, mudah sekali mengikuti apa yang didapat dari lingkungan sosialnya,” terang Dekan Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan (UBP) Cempaka Putrie Dimala, Kamis (25/6).

Kemudahan akses internet juga cukup berperan dalam penyalahgunaan narkotika. Para remaja ketika dalam proses pencarian jati dirinya mencari tahu mengenai sesuatu yang belum ia ketahui, terlebih jika teman sepergaulannya menjadi pemakai narkoba, akan memicu mereka untuk terus mencari tahu. Namun jika seorang remaja memiliki kontrol diri dan mampu mengelolanya dengan baik, kemungkinan dia terjerumus tidak mudah. “Lagi-lagi ketahanan keluarga itu yang penting,” jelasnya.

Penyalahgunaan narkotika oleh remaja akan berdampak panjang, dimulai dari ketagihan disebabkan adanya zat adiktif. Muncul dorongan-dorongan yang membuat mereka untuk mengulangi hal tersebut, terlebih jika mengalami kesenangan sesaat, efek “fly” atau efek-efek tertentu. Dikatakannya, dalam sebuah penelitian remaja rentan terpapar stres dan bila tidak tertangani dengan baik maka akan cenderung depresi.

Sampai tahap depresi namun keluarga dan lingkungan tidak hadir merangkulnya, remaja teraebut cenderung mencari jalan pintas sebagai solusi. Solusi yang diambil biasanya pergi dengan teman pergaulannya karena merasa berarti dan diakui, pelarian kepada pergaulan yang salah memperbesar peluangnya semakin terjerumus. Secara psikologis, saat menggunakan narkotika pemakai kekurangan kendali akan kontrol dirinya. Kondisi ini dapat pula memicu masalah di lingkungan sosialnya. Ia akan mudah terpancing dan bertindak agresif saat muncul suatu pemicu dalam relasi sosialnya.

Untuk mencegah semua hal ini terjadi, pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Edukasi dan pembangunan karakter oleh orang tua menjadi kunci utama kontrol diri pada remaja. Dengan pembangunan karakter para remaja mampu membedakam mana yang salah mana yanh benar, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. “Hal itulah yang kemudian jadi pegangan, karena memang berangkat dari keluarga,” pungkasnya. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *