Pemkab Setengah Hati Atasi Tawuran Pelajar


KARAWANG, RAKA – Entah bagaimana kualitas generasi penerus di Kabupaten Karawang kedepan, jika tawuran dianggap sebagian siswa sebagai identitas kehormatan. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Karawang seolah setengah hati mengatasi persoalan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir saja, sudah lima kali tawuran pelajar

terjadi di berbagai wilayah di Karawang. Mereka melengkapi diri dengan senjata tajam semisal celurit, golok, hingga gergaji es. Kejadian pertama terjadi tak jauh dari bendungan Walahar, Kecamatan Klari, Senin tanggal 7 Januari 2019. Dalam aksi tawuran ini, ada pelajar SMP yang membawa cerulit. Tidak jelas penyebab pecahnya tawuran ini, beruntung tidak ada korban, hanya saja dua orang pelajar dibawa warga ke Polsek Klari.

Kejadian kedua, tanggal 12 Januari. Aksi baku hantam dilakukan oleh 15 siswa SDN 1 Kiara, Desa Kiara, Kecamatan Cilamaya Kulon dengan 12 siswa SDN 1 Langgensari, Desa Langgensari, Kecamatan Cilamaya Kulon. Peristiwa memilukan itu terjadi di perkebunan Dusun Pangasinan, Desa Langgensari. Peristiwa itupun sempat viral karena diunggah di media sosial. Peristiwa ketiga terjadi tanggal 16 Januari 2019. SMK PGRI 3 Karawang bersama SMK Nurul Ansor Jayakerta terlibat tawuran dengan siswa SMKN 1 Tirtajaya. Perang terjadi setelah mereka berpapasan sepulang sekolah di Jalan Raya Batujaya di Dusun Tangkil, Desa Kutaampel, tepatnya di depan gerbang SMAN 1 Batujaya. Akibatnya, dua orang siswa SMKN 1 Tirtajaya menjadi korban sabetan senjata tajam.

Tito (17) pelajar SMAN 1 Batujaya mengalami luka sobek di bagian kaki sebelah kanan, dan Anda Nugraha (17) pelajar SMKN 1 Tirtajaya mengalami luka di bagian punggung dekat pundak. Dari kejadian ini, Polsek Batujaya berhasil mengamankan 3 orang siswa, Casmita bin Nuryaman (18), pelajar SMK Nurul Ansor kelas 12, Nana Suwandi bin Nawawi (18), pelajar SMK Nurul Ansor kelas 12 dan Ahmad Jaenudin bin Sarja (18), pelajar SMK Nurul Ansor kelas 12. Selain ketiga siswa, Polsek Batujaya juga berhasil mengamankan dua senjata tajam jenis golok dan satu besi yang dibentuk bengkok mirip arit. Ketiga orang siswa itupun terancam dikenai pasal 170 KUHP, dengan ancaman pidana hukuman 5 tahun dan mengakibatkan luka berat ancaman 9 tahun.

Dua hari berselang, giliran anak-anak SMPN 1 Rengasdengklok menyerang SMPN 1 Kutawaluya. Mereka berkonvoi menunggangi motor sambil membawa senjata tajam.

Satpam SMPN 1 Kutawaluya Irfan mengatakan, hal tersebut sudah diluar kewajaran siswa, apalagi mereka yang masih duduk di bangku SMP membawa senjata tajam jenis cerulit. “Satu orang berhasil diamankan dan dibawa ke Polsek Rengasdengklok,” ujarnya.

Peristiwa kelima terjadi tanggal 21 Januari, tepatnya di daerah Susukan, Cilamaya. Beberapa orang pelajar terlihat saling sabet samurai dan celurit terekam kamera. Beruntung tidak ada korban luka, karena warga langsung membubarkan tawuran tersebut. Video itupun tersebar di grup whatsapp kepala sekolah.

Melihat peristiwa demi peristiwa di bulan ini, seharusnya Pemerintah Kabupaten Karawang menanggapi serius. Apalagi aksi tersebut sudah sangat tidak wajar dilakukan pelajar, karena mereka mencoba untuk saling membunuh menggunakan senjata tajam. “Ada yang membawa cerulit segala, ngeri anak zaman sekarang,” ujar warga Kutawaluya, Awin (56) kepada Radar Karawang.

Namun, masyarakat harus menelan kekecewaan karena belum ada langkah serius dan efektif yang dilakukan pemkab untuk menghilangkan aksi tawuran pelajar. Pasalnya, meski Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana pernah menyatakan akan mencabut izin sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran, hingga saat ini tidak terbukti. Begitu pun dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang hanya baru akan memanggil petinggi sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran. “Saya akan panggil kepsek dan bidang kesiswaan (sekolah yang tawuran), lakukan klarifikasi persoalannya apa,” kata
Sekretaris Disdikpora Kabupaten Karawang Nandang Mulyana. (apk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here