Perantau Peduli Sesama

BANTU ANAK YATIM: Anggota komunitas Perantau Peduli Sesama membantu anak yatim dan para santri agar bisa belajar dengan baik.

Sisihkan Gaji untuk Disumbangkan

KARAWANG, RAKA – Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pepatah itu sangat dijiwai oleh para perantau yang tergabung dalam Perantau Peduli Sesama (PPS). Mereka kerap menyumbangkan sebagian gajinya untuk membantu warga Karawang yang kesusahan. “Karena kita berprinsip, kita mengais rezeki di sini, ingin sekali rasanya kita juga bermanfaat sedikit meringankan beban saudara kita yang ada di Karawang khususnya,” ucap Ketua PPS Kiki Hengki Gunawan kepada Radar Karawang.

Kiki telah tinggal di Karawang sejak 2012. Ia menuturkan PPS terbentuk pada Januari 2017, saat itu bersama ketiga temannya sesama perantau di Karawang yakni Bangbang, Iman Kartiman, dan Uus Kusniati menyisihkan 2,5 persen gaji bulanan untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Saat itu mereka menitipkannya ke panti, seiring waktu mereka pun memberikannya secara langsung terutama kepada duafa dan yatim piatu. “Karena di luar sana banyak sekali saudara kita yang membutuhkan, ada duafa yang sebatang kara, lansia yang masih bekerja dengan penghasilan tak seberapa, saudara kita yang sakit, kita ingin terjun langsung,” tuturnya.

Komunitas Perantau Peduli Sesama menjadi wadah bagi mereka yang ingin menyisihkan rezekinya untuk saudara yang membutuhkan. Bukan hanya bagi perantau, banyak pula warga asli Karawang yang ikut berpartisipasi dengan kegiatan mereka. Setiap bulannya PPS menggalang dana untuk membagikan sembako kepada yang membutuhkan, terutama saat situasi sulit karena pandemi corona seperti sekarang ini.

PPS biasanya membuka donasi melalui sosial media seperti Instagram, Facebook dan Whatsapp. Di Instagram misalnya, mereka dapat ditemui dengan akun @perantaupeduli. “Jangan lupa bersyukur, mari kita mulai dari yang terkecil, buat orang sekitar kita bahagia, mari berbagi karena dengan berbagi kebahagiaan kita selalu ada,” pesannya yang saat ini tinggal di Telukjambe Timur.
Salah satu perintis lainnya, Bangbang (27) mengaku motivasinya untuk membuat gerakan seperti ini tak beda dengan ketiga temannya, yakni memberi manfaat bagi kota tempat mereka bekerja.
“Saat itu saya berpikir di kota ini saya kerja dan dapat gaji per bulannya di sini. Saya harus bisa menyisihkan setiap zakat gajian saya sebesar 2,5 persen untuk yang membutuhkan di sini. Dan Alhamdulillah ketiga rekan saya juga satu pemikiran. Dan setiap habis gajian dari empat orang itu selalu menyisihkan sebagian dari hartanya dan diserahkan ke panti asuhan,” katanya.

Selama tiga tahun berjalan, dia merasa PPD bukan hanya sekadar komunitas namun sudah menjadi keluarga tersendiri di tanah rantau. “Dengan komunitas ini saya merasa kesenangan tersendiri ketika terjun ke lapangan, melihat kondisi mereka tersenyum saja, kebahagiaan terasa di benak saya,” kesannya. Bangbang mengatakan, meski donasi yang diberikan tidak begitu besar, setidaknya hal itu dapat sedikit membantu. “Sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan di dunia ini, kalau mati gak bakalan dibawa. Insya Allah setiap kali kita memberi uang Rp1000 kepada orang yang membutuhkan, niscaya Allah akan menggantinya berlipat-lipat,” pungkasnya. (psn)