Pola Asuh Tentukan Tumbuh Kembang Anak

Psikolog Relawan P2TP2A Karawang Cempaka Putrie Dimala

KARAWANG, RAKA – Pola asuh adalah proses untuk meningkatkan serta mendukung perkembangan fisik, emosional, intelektual maupun sosial dan finansial kepada anak sejak bayi hingga dewasa.

Dalam proses membimbing anak sampai menemukan jati diri pada masa awal dewasa, pola asuh yang diterapkan sangat berpengaruh. “Mau dibimbing seperti apa nih anak ini,” ucap psikolog relawan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Karawang, Cempaka Putrie Dimala, M. Psi.

Cempaka yang juga dekan Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan (UBP) menyampaikan, setiap orangtua mempunyai ragamnya sendiri dalam menerapkan pola asuh. Namun pada umumnya pola asuh dapat dikategorikan kepada tiga tipe yaitu permisif, otoriter, dan otoritatif.

Pola asuh permisif adalah ketika orangtua memberi kebebasan terhadap anak. Sedangkan pola asuh otoriter adalah orangtua yang cenderung mengekang anak dengan berbagai peraturan. Adapun pola asuh otoritatif dimana orangtua tidak membebaskan namun juga tidak mengekang anak. “Ibaratnya memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten, ini yang biasanya direkomendasikan para ahli,” jelasnya.

Komunikasi antara orangtua dan anak dalam pola asuh otoritatif terjadi dua arah. Dengan demikian orangtua dapat mendorong anak untuk berdiskusi sehingga anak mempunyai ruang untuk mengutarakan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Begitupun orangtua dapat menyeseuaikan dengan apa yang sang anak inginkan.

Pola asuh anak yang diterapkan orang dapat termanifestasi dalam bentuk kelekatan. Ini dapat dilihat dari respon anak usia dini pada kondisi tertentu, misalkan pada ruang lingkup yang besar dan asing bagi sang anak. Jika anak tersebut mencari perlindungan pada sang ibu dengan memeluk erat misalnya, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai kelekatan aman. Kelekatan aman inilah yang mengindikasikan pola asuh yang diterpakan sudah baik.

Kelekatan lainnya adalah kelekatan tidak aman, dimana anak cenderung menghindar dari pengasuh dalam hal ini orangtua saat dihadapkan pada kondisi tertentu. Adapula kelekatan tidak aman dan menolak dimana sang anak seringkali melekat dengan ibunya, namun tetiba menolak dengan menendang atau mendorong pergi. “Yang keempat ini jenisnya insecure disorganized, dimana terkadang anak menghindar terkadang ia menolak, jadi kolaborasi antara tipe yang kedua dan ketiga,” paparnya.

Cempaka mengingatkan bahwa orangtua adalah guru pertama bagi anak saat lahir ke dunia. Banyak hal yang ingin dipelajarinya sehingga sebaiknya orangtua memberikan sentuhan yang tepat bagi anak. “Sebab itu orang mesti punya dasar pola asuh yang baik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bisa sesuai dengan masyarakat,” pesannya. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *