Relawan Banjir Rela Tinggalkan Keluarga

HIBUR ANAK ANAK KORBAN BANJIR: Seorang relawan memberikan trauma healing untuk anak-anak korban banjir di Darul Arqam Karawang.

Kurang Tidur Layani Pengungsi

KARAWANG, RAKA – Tidak semua orang mau jadi relawan saat terjadi bencana semisal banjir di Karawang, terlebih saat ini corona masih mewabah. Konsekuensinya jelas. Meninggalkan keluarga, bertaruh nyawa menerabas banjir saat evakuasi korban, kedinginan, terpapar virus corona, kurang tidur, makan dengan gizi seadanya, bahkan harus bisa menghibur para korban banjir di tempat pengungsian. Mereka pun tidak diupah.

Koordinator Angkatan Muda Muhammadiyah Karawang Peduli Banjir Ichsan Maulana mengatakan, beragam cara dilakukan untuk melayani para pengungsi terdampak banjir di Darul Arqam, sehingga pihaknya dan kader Muhammadiyah lainnya kerapa istirahat tengah malam. Bahkan baru bisa tidur sekitar 01.00.
“Kurang tidur sudah pasti, paling cepat kita baru bisa tidur jam satu terus bangun lagi setengah lima (subuh),” jelasnya kepada Radar Karawang, Senin (22/2).

Karena harus melayani para pengungsi yang jumlahnya sampai ratusan, Ichsan mengaku tidak ada kesempatan para relawan untuk tidur siang hari di posko peduli banjir. Kata dia, sebanyak belasan AMM ada di posko banjir, kecuali malam hari. Meski demikian, pelayanan untuk korban banjir selalu terbuka 24 jam.

Selama di pengungsian, AMM tak hanya menyediakan kebutuhan pokok seperti makanan, minuman dan popok. Melainkan untuk mengisi waktu senggang, juga menggelar pengajian dan menghibur untuk anak-anak korban banjir di pengungsian.
“Kita juga memberikan trauma healing untuk anak-anak korban banjir,” pungkasnya.

Salah satu relawan kebencanaan, Novi Madera (40) warga asli Karanganyar, Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat. Ia menuturkan, aktif sebagai relawan kebencanaan sejak tahun 2000 silam. Sebelumnya dia sempat aktif di SAR Sagara dan sekarang menjadi anggota Tagana. Tentunya banyak kesan yang didapat selama 20 tahun menjadi relawan kebencanaan, salah satunya rasa senang dapat membantu orang lain yang tengah tertimpa musibah. Hal ini pula yang membuatnya masih bertahan untuk aktif sebagai relawan kebencanaan. “Jadi relawan sekarang saya tahu kampung A kampung B itu dimana, yang rawan bencana saya tahu dimana saja, kebetulan rekan-rekan relawan di lapangan itu menyenangkan,” ungkapnya.

Ketua tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Karawang Yanuaris mengatakan, selama dua tahun menjadi ketua tim banyak hal dirasakan. Para personel juga harus rela meninggalkan rumah dan keluarga untuk membantu korban bencana. “Kalau suka duka banyak ya selama ini. Sukanya, bisa membantu banyak orang. Dukanya, merasakan kesedihan dari para korban,” ujarnya.

Ia melanjutkan, keluarga memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaannya ini. Para anggota juga saling menguatkan satu sama lain. “Seluruh tim saling gotong royong,” ujarnya. (mra/cr6)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka