Remaja Nakal, Kurang Perhatian Orangtua

TERCIDUK: Sejumlah remaja yang diciduk aparat kepolisian karena kerap membuat ulah, beberapa waktu lalu. Sejak PPKM mulai jarang terdengar anak-anak konvoi di jalanan

KARAWANG, RAKA – Sejumlah sekolah sudah mulai menggelar pertemuan tatap muka. Anak-anak pun kembali ke sekolah. Kekhawatiran muncul akan terjadinya tawuran kembali. Staf Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Karawang Karina Nur Regina menyampaikan, aksi konvoi dengan membawa senjata tajam adalah salah satu bentuk kenakalan remaja. “Kenakalan seperti ini bukan hanya membahayakan dirinya namun juga membahayakan orang lain,” ucapnya.

Regina menjelaskan, dari sisi psikologis faktor pendorong mereka berbuat demikian adalah terbentuknya konsep diri negatif dan emosi yang belum matang. Melihat dua hal ini, kenakalan remaja erat kaitannya dengan kematangan mental mereka. Konsep diri adalah bagaiamana seseorang memandang dirinya baik itu fisik, karakter, maupun motivasi diri. Dalam konsep diri individu mengetahui kelemahan serta kekuatan yang dimilikinya. Semestinya semua aspek ini mengarah kepada hal positif. Namun jika persepsi individu terhadap dirinya, persepsi orang lain tehadap individu tersebut diri sendiri, dan kondisi yang diinginkan semuanya negatif, maka tentu konsep diri yang terbentuk pun negatif.

Adapun perihal kematangan mental adalah kemampuan individu mengontrol emosi secara tepat dan mengekspresikannya dengan cara yang diterima masyarakat. Ketika konsep diri baik maka si anak akan malu untuk berbuat sesuatu yang tidak baik di mata orang lain. “Mereka akan sibuk bagaimana caranya membuat orang lain justru nyaman dengan dirinya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, masa remaja adalah masa peralihan dari usia kanak-kanak menuju usia dewasa. Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap yang kekanak-kanakan, serta berusaha mencapai kemampuan berperilaku dan bersikap dewasa. Pada masa remaja ini adalah masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman sebaya. Kematangan mental seyogyanya berkorelasi positif dengan usia. Namun demikian, kematangan mental juga dipengaruhi bagaimana lingkungan orang tua, teman sebaya memberi perlakuan. “Usia bertambah, emosi seharusnya juga (mental) semakin matang,” ucapnya.

Regina berpesan kepada para remaja untuk meninggalkan hal-hal yang membuat cemas orang tua, tetangga, dan orang-orang terkasih lainnya. Masih banyak hal baik yang bertebaran dan dapat dilakukan di sekitar. Ia juga berpesan kepada para orang tua untuk luangkan sedikit waktu di tengah kesibukan untuk putra-putri mereka. Memberi kesempatan untuk mendengarkan keluh kesah, mereka terutama saat pendemi tentunya memberi dampak yang baik. “Untuk ibu dan bapak guru, terus motivasi murid-murid, jangan kendor sebab para guru ini cenderung lebih mendengarkan anak ketimbang orang tuanya,” pesannya. (psn)