Tak Sekadar Menggesek Biola

MEMBUAT BIOLA: Abah Adang sedang membuat biola di rumahnya, Dusun Karang Tengah RT 012 RW 003, Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur, kemarin.

Alunannya Menenangkan dan Menyatukan Perbedaan

KARAWANG, RAKA – Biola tak hanya menghasilkan alunan nada yang indah, namun juga menjadi bagian sejarah Indonesia. Lagu Indonesia Raya pertama kali dimainkan oleh penciptanya W.R. Soepratman berupa alunan merdu suara biola. “Jangan lihat biolanya, lihat sejarahnya, dengan biola WR Soepratman mempersatukan Indonesia melalui lagu yang diciptakannya,” ujar Adang Suganda, pemain sekaligus perajin biola yang eksis di Karawang, Senin (28/9).

Pria berusia 68 tahun yang akrab disapa Abah Adang ini menceritakan perjalanannya menekuni biola berawal dari satu musibah. Saat itu di usia mudanya ia terjatuh dari pohon kelapa yang menyebabkan kaki kirinya mesti diamputasi. Sempat putus harapan, namun akhirnya mencoba bangkit dengan menjadi pesulap ke sekolah-sekolah. Sampai akhirnya terbesit dipikirannya tentang biola yang menjadi bagian sejarah. “Saat itu sebelum bermain sulap saya mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan diiringi gesekan biola yang saya mainkan, itu sekitar tahun 1987,” ceritanya.

Keterbatasan ekonomi membuatnya berproses kreatif dengan membuat biolanya sendiri. Berawal dari situlah ia menjadi perajin biola di rumahnya, Dusun Karang Tengah RT 012 RW 003, Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur. Sejak saat itu juga ia mulai mengajar biola di sejumlah sekolah. Bahkan kediamannya pun kerap menjadi tempat latihan bermain biola, terutama binaannya yang tergabung dalam Rampak Viul Karawang. Sampai saat ini ia masih aktif mengajar biola di sejumlah sekolah, mulai dari tingkatan PAUD sampai SMA.

Biola hasil karya Abah Adang dijualnya sesuai dengan kemampuan anak didiknya. Ia ingin minat anak-anak tersebut bukan hanya sekadar bisa mengenal biola namun juga memilikinya. Hal ini sebagai upaya memasyarakatkan biola yang kerap dianggap sebagai seni musik yang eksklusif dan mewah.

Ia menuturkan, dalam budaya masyarakat Jawa Barat biola disebut piul, serapan dari kata viool yang berarti biola dalam bahasa Belanda. Biola pun dapat mengiringi lagu Sunda tanpa mengubah nada dasarnya yang dalam kesenian Sunda disebut madenda. “Selain mengenang sejarah, juga melestarikan budaya rampak piul (bermain biola bersama),” ujarnya.

Di generasi muda, pemain biola yang eksis di Karawang adalah Juwita (18) yang tak lain adalah anak bungsu dari Abah Adang. Ia bercerita tertarik bermain biola sejak umur 5 tahun. Meski ayahnya guru biola, namun ia belajar alat musik tersebut secara otodidak. Sebab itulah ia begitu menjiwai permainan biola ketimbang alat musik lainnya. “Sampai nangis karena diajarin, tapi dari situ belajar sendiri lihatin abah main,” ungkapnya.

Bagi Juwita, daya tarik biola adalah nadanya yang anggun. Bahkan ia kerap menjadikan biola sebagai penenang hati saat menghadapi kerisauan hati. Saat ini aktif ekskul biola di sekolahnya dan juga komunitas biola yang diikutinya. “Daripada main hp terus mending gali potensi dan bakat, misalnya bermain musik apapun itu tidak mesti biola,” pesannya yang bercita-cita menjadi pemain biola yang mendunia. (din)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *