Purwakarta
Trending

Murak Celengan, Cara Unik SDN Ekologi Kahuripan Purwakarta Ajarkan Hemat dan Berbagi

‎PURWAKARTA, RAKA – Pemandangan tak biasa terlihat di halaman SDN Ekologi Kahuripan Padjajaran Purwakarta. Ratusan siswa berbondong-bondong membawa celengan dengan berbagai bentuk, mulai dari tabung sederhana hingga karakter kartun favorit mereka. Namun, yang mereka bawa bukan sekadar tempat menyimpan uang receh, melainkan kumpulan mimpi yang telah ditabung selama satu tahun.

‎Suasana riuh dan penuh antusiasme mewarnai kegiatan “Murak Celengan”, sebuah agenda tahunan yang mengajak seluruh siswa dari kelas satu hingga kelas enam membuka tabungan mereka secara bersamaan.

‎Di tengah maraknya budaya konsumtif yang semakin mudah menjangkau anak-anak melalui gawai dan media sosial, sekolah ini justru memilih cara sederhana untuk menanamkan kebiasaan hidup hemat sejak dini.

‎Kepala SDN Ekologi Kahuripan Padjajaran, Erni Asmawati, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar menghitung jumlah uang yang berhasil dikumpulkan siswa. Menurutnya, program itu merupakan bagian dari pendidikan karakter yang selama ini diterapkan di lingkungan sekolah.

‎“Anak-anak dilatih untuk menyisihkan sebagian uang jajannya secara rutin. Kebiasaan sederhana ini akan menjadi bekal penting bagi mereka dalam mengelola keuangan di masa depan,” ujar Erni, Rabu (10/6).

‎Ia menjelaskan, tujuan utama program tersebut adalah membentuk karakter disiplin, sabar, dan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

‎Secara tidak langsung, Erni menilai kebiasaan menabung dapat membantu anak-anak menghindari perilaku boros sekaligus menumbuhkan kemampuan merencanakan masa depan sejak usia sekolah dasar.

‎Kegiatan itu juga mendapat apresiasi dari Pengawas Bina SD, Isty Diansyah, yang hadir menyaksikan langsung proses penghitungan tabungan siswa.

‎Menurutnya, nilai terbesar dari program tersebut bukan terletak pada nominal uang yang terkumpul, melainkan proses pendidikan karakter yang berlangsung selama setahun penuh.

‎Isty mengatakan menjaga semangat menabung pada anak-anak bukan pekerjaan mudah. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak lepas dari kerja sama antara sekolah, orang tua, dan para siswa.

‎“Kolaborasi antara guru, keluarga, dan anak menjadi faktor penting agar kebiasaan menabung bisa berjalan konsisten,” katanya.

‎Di antara ratusan siswa yang sibuk membongkar celengan masing-masing, perhatian tertuju kepada Rizki, siswa kelas 5B yang berhasil mengumpulkan tabungan lebih dari Rp3 juta.

‎Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di kelasnya. Namun, yang membuat kisahnya istimewa bukan hanya nominal tabungan yang berhasil dikumpulkan.

‎Dengan wajah penuh semangat, Rizki mengungkapkan bahwa uang yang ditabungnya selama ini bukan untuk membeli gawai baru atau mainan mahal. Ia mengaku memiliki cita-cita yang berbeda.

‎“Saya ingin membeli domba supaya bisa ikut berkurban tahun depan,” ujar Rizki.

‎Keinginan sederhana itu sontak mendapat apresiasi dari para guru dan orang tua yang hadir. Di usia yang masih belia, Rizki memilih menabung demi tujuan yang memiliki nilai sosial dan keagamaan.

‎Kisah Rizki menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari ruang kelas atau buku pelajaran. Kadang, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. (yat)

Related Articles

Back to top button