
KARAWANG, RAKA – Penertiban bangunan liar di kawasan Cikampek tidak hanya mengubah wajah kawasan, tetapi juga berdampak pada para pedagang yang selama ini menggantungkan mata pencahariannya di lokasi tersebut. Sejumlah pedagang kini terpaksa berhenti berjualan sementara karena belum memiliki tempat usaha pengganti.
Salah satunya Winda, warga Kecamatan Klari, yang mengaku telah lama berjualan di kawasan Cikampek. Warung miliknya yang menjual nasi, mi instan, dan kopi ikut dibongkar karena berdiri di atas lahan milik pemerintah.
Winda mengatakan, usahanya selama ini menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya. Dalam sehari, saat kondisi ramai, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp800 ribu dengan keuntungan bersih sekitar Rp200 ribu. ”Kalau lagi ramai sehari bisa dapat sekitar Rp 800 ribu, bersihnya sekitar Rp 200 ribu,”katanya, Minggu (19/7).
Sejak pembongkaran dilakukan, ia belum kembali berjualan lantaran belum menemukan lokasi yang sesuai. Kondisi tersebut membuat penghasilannya terhenti sementara. Menurut Winda, dirinya sempat mendapat tawaran untuk berjualan di kawasan Pasar Pemda Cikampek. Namun, ia menilai lokasi yang ditawarkan kurang strategis karena berada di bagian dalam pasar dan belum tersedia bangunan untuk berdagang.
“Kemarin sempat ditawari jualan di Pasar Pemda Cikampek, tapi tempatnya di dalam, bukan di pinggir jalan. Bangunannya juga belum ada, jadi kalau jualan harus bongkar pasang sendiri. Sekarang masih cari tempat yang lebih strategis,” katanya.
Ia berharap dapat segera memperoleh lokasi usaha yang layak agar bisa kembali berjualan dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Menurutnya, lokasi yang mudah dijangkau pembeli menjadi faktor penting agar usahanya tetap bisa berjalan dengan baik. (zal)



