Purwakarta
Trending

Ekspor Keramik Plered Menurun

PURWAKARTA, RAKA – Industri kerajinan keramik Plered, Kabupaten Purwakarta, yang selama ini dikenal mampu menembus pasar internasional, menghadapi tekanan serius sepanjang tahun 2025.

UPTD Sentra Keramik Plered mencatat penurunan tajam volume ekspor dibandingkan tahun sebelumnya, meski minat pasar global terhadap produk kriya berbahan tanah liat tersebut dinilai masih ada.

Kepala UPTD Sentra Keramik Plered, Mumun Maemunah, mengatakan Kecamatan Plered sejak lama menjadi sentra kerajinan keramik unggulan di Purwakarta. Produk-produk lokal, mulai dari pot tanaman hingga guci dan vas bunga, telah lama menghiasi pasar luar negeri.

“Selama ini ekspor keramik Plered sudah masuk ke negara-negara jazirah Arab, Eropa, sampai Amerika,” ujar Mumun.

Namun, sepanjang 2025, realisasi ekspor mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data UPTD, total pengiriman ke luar negeri hanya mencapai lima kontainer, jauh menurun dibandingkan tahun 2024 yang mampu menembus angka 15 kontainer.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, penurunannya memang cukup drastis,” kata Mumun.

‎Ia menjelaskan, anjloknya ekspor tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal. Salah satu faktor utama berasal dari kebijakan pajak ekspor yang diterapkan Amerika Serikat pada era pemerintahan Presiden Donald Trump, yang hingga kini masih berdampak pada biaya dan minat impor.

Selain itu, perubahan manajemen di pihak eksportir serta pembatasan pengambilan bahan baku turut menjadi tantangan tersendiri bagi industri keramik Plered.

Meski demikian, Mumun menegaskan bahwa pasar internasional belum sepenuhnya menutup pintu bagi keramik Plered. Sepanjang 2025, ekspor tetap menjangkau sejumlah negara potensial.

‎“Tahun ini masih ada pengiriman, satu kontainer 40 feet ke Amerika, satu kontainer 40 feet ke Belanda, dan tiga kontainer 40 feet ke Jepang,” tuturnya.

Produk yang dikirim ke tiga negara tersebut didominasi keramik hias, terutama guci yang selama ini menjadi andalan perajin Plered.

Di tengah menurunnya ekspor, kondisi perajin keramik lokal relatif stabil. Mumun menyebut, pasar dalam negeri justru menjadi penopang utama keberlangsungan industri keramik Plered.

“Permintaan dalam negeri masih sangat bagus, bahkan banyak pembeli yang datang langsung ke Plered untuk membeli keramik hias,” jelasnya.

Saat ini, jumlah perajin keramik Plered tercatat sebanyak 447 orang. Menariknya, sekitar separuh dari total perajin tersebut merupakan perempuan, mayoritas ibu rumah tangga, yang aktif terlibat dalam proses produksi keramik.

Keterlibatan perempuan ini dinilai tidak hanya menjaga keberlanjutan industri kriya lokal, tetapi juga berperan penting dalam menopang perekonomian keluarga dan memperkuat sektor UMKM di Kabupaten Purwakarta. (yat)

Related Articles

Back to top button