
PURWAKARTA, RAKA – Tatanen di Bale Atikan (TdBA) 2025 tak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjelma sebagai pasar kreatif makanan dan minuman sehat karya peserta didik.
Pada hari kedua Festival Gandrung Mulasara Tatanen yang digelar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jalan Purnawarman, Kelurahan Sindangkasih, Selasa (30/12), ratusan produk ramah lingkungan hasil olahan siswa dipamerkan dan dinikmati pengunjung.
Berbagai stan yang diisi perwakilan sekolah dari seluruh kecamatan di Purwakarta menyuguhkan aneka makanan dan minuman berbahan alami. Seluruh produk merupakan hasil pembelajaran kurikulum muatan lokal TdBA yang menekankan kemandirian, kesehatan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Dede Supendi, menyampaikan bahwa festival ini menjadi etalase hasil akhir proses belajar peserta didik.
Setelah hari pertama diisi dengan workshop dan seminar, hari kedua secara khusus difokuskan pada penyajian produk unggulan yang telah melalui proses kurasi.
“Festival ini kami desain seperti pasar makanan dan minuman sehat. Anak-anak menampilkan hasil olahan terbaik mereka, mulai dari proses menanam bahan baku hingga menyajikannya sebagai produk siap konsumsi,” ujar Dede.
Menurutnya, produk yang tampil di tingkat kabupaten merupakan hasil seleksi berjenjang dari ratusan sekolah. Setiap sekolah membawa ciri khas sesuai dengan potensi wilayah masing-masing, sehingga pasar kuliner ini menghadirkan ragam menu sehat berbasis bahan lokal.
Dede menegaskan, seluruh makanan dan minuman yang disajikan bebas dari bahan kimia dan zat aditif berbahaya. Selain menanamkan pola hidup sehat, kegiatan ini juga melatih jiwa kewirausahaan sejak dini.
“Ini bukan sekadar pameran, tapi pembelajaran nyata. Anak-anak belajar disiplin, tanggung jawab, kreativitas, hingga cara memasarkan produk mereka,” jelasnya.
Salah satu produk yang menyita perhatian pengunjung datang dari SDN 3 Ciseureuh berupa minuman segar bernama Fresco Botani. Minuman ini dibuat dari tebu dan jeruk nipis hasil kebun sekolah, tanpa tambahan bahan kimia.
Guru pembimbing SDN 3 Ciseureuh, Emi Suhaemi, mengatakan seluruh proses pembuatan dilakukan langsung oleh peserta didik dengan pendampingan guru.
“Anak-anak menanam sendiri tebunya, merawat jeruk nipisnya, lalu mengolahnya menjadi minuman segar. Dari situ mereka belajar hidup sehat sekaligus menghargai alam,” tuturnya.
Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta berencana memberikan apresiasi kepada produk-produk terbaik dan membuka peluang keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan daerah ke depan.
Melalui Festival Gandrung Mulasara TdBA 2025, pasar makanan dan minuman sehat karya siswa ini diharapkan menjadi sarana penguatan karakter, kesadaran ekologis, serta kecintaan terhadap produk lokal sejak usia dini. (yat)



