Purwakarta
Trending

Pasar Sasagaran Hanya Buka Minggu Pagi

PURWAKARTA, RAKA – Setiap Minggu pagi, Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, seolah kembali ke masa lalu. Pasar Sasagaran hadir sebagai ruang temu antara kenangan dan cita rasa tradisional yang kini kian jarang ditemui di tengah arus modernisasi.

‎Pasar yang hanya buka sepekan sekali ini mengusung konsep unik dengan menghadirkan jajanan tempo dulu sebagai daya tarik utama. Tanpa kemasan modern dan tanpa sentuhan kekinian, jajanan disajikan secara sederhana, justru menjadi magnet bagi ribuan pengunjung dari berbagai daerah, mulai dari Purwakarta, Karawang, Subang, hingga Jakarta.

‎Di sepanjang area pasar, pengunjung disuguhi beragam kuliner tradisional seperti gemblong, comro, curandil, klepon, dodongkal, cucur, opak, uli ketan, hingga sate kikil dan pais belut. Minuman hangat seperti bajigur dan es goyobod turut melengkapi suasana pagi yang hangat dan akrab.

‎Rizky Pratama, pengunjung asal Jakarta, mengaku datang bersama keluarganya setelah melihat ramainya Pasar Sasagaran di media sosial. Ia menyebut pengalaman berkunjung ke pasar tersebut memberi kesan berbeda dibanding pasar kuliner lainnya.

‎“Begitu masuk, rasanya seperti pulang ke kampung halaman. Banyak jajanan yang dulu sering saya lihat waktu kecil, sekarang malah susah ditemukan di kota,” ujar Rizky, Minggu (1/2).

‎Hal serupa dirasakan oleh Lestari, pengunjung asal Cikampek, Karawang. Ia mengatakan Pasar Sasagaran bukan hanya tempat makan, tetapi juga ruang nostalgia yang membangkitkan ingatan masa kecil.

‎“Sambil minum bajigur dan makan gemblong, ingatan masa kecil langsung muncul. Bahkan ada beberapa jajanan yang baru pertama kali saya tahu, tapi rasanya tetap akrab,” katanya.

‎Tak hanya kuliner, pasar ini juga menghadirkan berbagai permainan anak tempo dulu. Perahu kelotok, mainan kayu, dan permainan tradisional lainnya kembali dimainkan anak-anak, menciptakan suasana yang jarang ditemui di tengah dominasi gawai dan permainan digital.

‎Sementara itu, Suryani, salah seorang pedagang lokal, mengatakan seluruh dagangan di Pasar Sasagaran wajib berupa makanan dan minuman tradisional. Menurutnya, pasar ini menjadi ruang penting bagi pedagang kecil untuk tetap bertahan sekaligus melestarikan kuliner daerah.

‎“Di sini tidak boleh jual makanan modern. Semua harus jajanan tradisional, seperti uli ketan, kikil, pais belut, dan lainnya. Alhamdulillah, pengunjung selalu ramai,” ujarnya.

‎Di tengah era digital, Pasar Sasagaran justru mendapatkan promosi luas melalui unggahan pengunjung di media sosial. Tanpa strategi pemasaran khusus, foto dan video yang dibagikan pengunjung menjadi daya dorong tersendiri bagi popularitas pasar tersebut.

‎Kini, Pasar Sasagaran tidak hanya dikenal sebagai tempat berbelanja makanan tradisional, tetapi juga sebagai ruang budaya yang mempertemukan generasi, menjaga memori kolektif, dan menghidupkan kembali cita rasa masa lalu di tengah perubahan zaman. (yat)

Related Articles

Back to top button