Purwakarta
Trending

Pasokan Manggis Purwakarta Seret, Ekspor Terpaksa Berhenti

PURWAKARTA, RAKA – Menurunnya produksi manggis di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, berdampak langsung terhadap aktivitas ekspor. Minimnya pasokan membuat para pengepul menghentikan sementara pengiriman manggis ke pasar luar negeri dan mengalihkan seluruh hasil panen untuk memenuhi permintaan pasar lokal.

Salah seorang pengepul manggis di Kecamatan Kiarapedes, Defa Mustofa, mengatakan kondisi panen tahun ini jauh berbeda dibanding musim-musim sebelumnya. Jika biasanya mereka mampu mengirim hingga tiga kontainer manggis untuk kebutuhan ekspor, kini pasokan dari petani tidak lagi mencukupi.

“Biasanya kami bisa ekspor sampai tiga kontainer. Tapi sekarang tidak ekspor dulu karena barangnya memang tidak ada. Yang ada juga kami jual untuk kebutuhan pasar lokal,” ujar Defa, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, produksi manggis di Purwakarta masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Sebagian besar tanaman manggis tumbuh di kawasan perbukitan dan hutan rakyat sehingga produktivitasnya belum bisa dikendalikan seperti di negara-negara penghasil manggis lainnya.

“Kalau cuacanya bagus, hasilnya bagus. Tapi kalau cuacanya tidak mendukung seperti sekarang, bunga yang keluar sedikit sehingga hasil panen ikut menurun,” katanya.

Akibat produksi yang terus menurun, buah manggis yang tersedia saat ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Sementara permintaan ekspor terpaksa belum bisa dilayani.

Defa berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani manggis melalui pendampingan tenaga ahli agar mereka memiliki solusi dalam menghadapi perubahan cuaca yang berdampak terhadap produksi.

“Saya berharap pemerintah bisa lebih ikut andil membantu petani manggis, terutama dengan menghadirkan tenaga ahli agar ada solusi saat cuaca ekstrem seperti sekarang,” ucapnya.

Data Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta menunjukkan produksi manggis memang mengalami penurunan tajam dalam dua tahun terakhir. Pada 2024 produksi tercatat mencapai 18.005 ton, kemudian turun menjadi 2.737 ton pada 2025. Sementara hingga periode Januari-Mei 2026, produksi baru mencapai 2.553 ton.

Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Kurnia Prawira Saputra, menjelaskan angka produksi tahun 2026 belum dapat dibandingkan secara langsung dengan tahun sebelumnya karena data yang tersedia masih mencakup lima bulan.

“Data 2026 ini baru lima bulan, jadi belum bisa dibandingkan secara apple to apple dengan data satu tahun penuh. Tapi memang dalam dua tahun terakhir produksi manggis sedang sulit,” jelasnya.

Ia mengatakan cuaca menjadi faktor utama penyebab turunnya hasil panen. Tanaman manggis membutuhkan periode panas untuk merangsang pembentukan bunga. Curah hujan yang tinggi justru membuat tanaman lebih banyak menghasilkan tunas dan daun dibandingkan buah.

“Kalau terus diguyur hujan, yang muncul bukan buah tetapi daun baru. Padahal musim panen manggis berlangsung sekitar Oktober sampai Maret,” katanya.

Meski demikian, pihaknya optimistis produksi manggis varietas Wanayasa masih berpeluang membaik pada musim panen berikutnya seiring kondisi cuaca yang mulai memasuki musim panas.

“Sekarang cuaca sangat panas, bahkan menyengat. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik sehingga panen tahun ini bisa lebih melimpah,” ujarnya.

Di tingkat petani, penurunan produksi juga berdampak besar terhadap pendapatan masyarakat. Zaeng, petani manggis asal Kecamatan Kiarapedes, mengaku sebagian besar kebun hampir tidak menghasilkan buah selama dua musim panen terakhir.

“Kalau dari 100 pohon, paling satu pohon yang berbuah, itu pun hasilnya tidak maksimal,” katanya.

Minimnya hasil panen membuat nilai jual kebun manggis anjlok drastis. Jika pada musim normal satu kebun bisa menghasilkan pendapatan antara Rp8 juta hingga Rp15 juta, kini nilainya hanya sekitar Rp300 ribu.

“Bayangkan saja, biasanya kita bisa jual sampai Rp15 juta. Kemarin cuma Rp300 ribu karena memang enggak ada buahnya,” ungkap Zaeng. (yat)

Related Articles

Back to top button