Pemulung, Gelandangan Berobat Gratis
DIPERIKSA: Warga miskin sedang diperiksa oleh dokter.
KARAWANG, RAKA – Di tengah polemik naiknya iuran BPJS Kesehatan yang marak diperbincangkan masyarakat, para pegiat sosial yang tergabung dalam komunitas Partners In Goodness (PING) menggelar pengobatan gratis bagi fakir miskin dan kaum duafa, kemarin.
Kegiatan yang diadakan di Jalan Arif Rahman Hakim, itu tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang tidak memiliki akses untuk berobat, terutama mereka yang hidup menggelandang
Pendiri komunitas ini, Uthie Susianto menceritakan, program tersebut berawal dari interaksi para relawan dengan kaum duafa yang biasa mengunjungi warung nasi bayar seribu, yang juga program komunitas ini. Saat itu, ada seorang pengunjung yang menolak makan karena mengeluh sakit. Saat ditelusuri ternyata pengunjung tersebut sudah bertahun-tahun tidak berobat. “Kita tanya sudah pernah berobat belum pak, jawabnya sudah pernah lima tahun yang lalu,” ceritanya.
Sejak saat itu Uthie dan rekan-rekannya menyadari bahwa kaum duafa jarang tersentuh oleh pengobatan. “Pengobatan gratis mengecek gula darah dan kolestrol. Selain itu mereka juga diberi makan, bingkisan dan obat-obatan yang semuanya gratis,” katanya.
Uthie menuturkan, semua yang terlibat dalam pengobatan gratis merupakan pegiat sosial yang terdiri dari empat dokter, 15 tim medis, 45 relawan serta grup akustik Komunitas Pengamen Jalanan. Mereka semua dengan sukarela melayani dan menghibur pasien yang ditargetkan mencapai 200 orang. “Ini kita benar-benar memperhatikan, satu-satu ditanyain, bukan yang berobat selesai begitu saja,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan, para pasien yang datang nampak sangat senang dengan pengobatan gratis ini. Sebagian besar pasien adalah tunawisma, bagi mereka pengobatan adalah sesuatu yang mahal. “Bingkisan yang kita kasih juga bukan berupa sembako, karena mereka gak punya rumah, bingung mau masak dimana. Jadi bingkisannya berupa sarung, makanan kering, minyak kayu putih, minyak urut, obat-obatan dan vitamin,” katanya.
Salah satu pasien yang datang bernama Poyati mengaku senang dengan adanya pengobatan gratis ini. Ia merupakan tunawisma yang kesehariannya memulung barang bekas bersama suaminya. Pengakuannya, terakhir berobat adalah tiga tahun yang lalu, itupun sekadar KB implan agar tidak hamil. “Pengennya ada terus yang kayak gini,” harapnya. (cr5)