Uncategorized

Petani Kewalahan Hadapi Si Monyong

BERBURU TIKUS: Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman melakukan upaya pengendalian hama tikus yang menyerang pertanaman padi di Kecamatan Rengasdengklok. Petugas Pengendali OPT dari BBPOPT ini sempat memberikan bimbingan tentang upaya pengendalian tikus.

Hama Tikus Rusak Padi

RENGASDENGKLOK, RAKA – Belakangan ini hama tikus menjadi persoalan serius bagi petani padi hingga mengalami kerugian jutaan rupiah. Kondisi tersebut dikeluhkan Awin (60) warga Dusun Pangasinan, Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya.

Dia sudah melakukan berbagai cara untuk mengusir hama tikus yang sudah menyerang tanaman padinya. Mulai dengan cara memasang jaring, memberi jebakan tikus dan obat tikus hingga saat ini sawahnya disekat plastik. “Memang tahun sebelumnya juga ada tikus, tapi tidak separah musim ini,” jelasnya kepada Radar Karawang.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT), Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terus melakukan upaya pengendalian hama tikus yang menyerang pertanaman padi. Di Kecamatan Rengasdengklok, petugas Pengendali OPT dari BBPOPT memberikan bimbingan tentang upaya pengendalian tikus. “Tikus termasuk OPT yang sering menyerang tanaman padi, jadi harus dikendalikan kalau tidak ingin padi kita habis dimakannya,” ujar Yadi, Petugas Pengendali OPT dari OPT kepada para petugas dan petani di Rengasdengklok.

Menurutnya, sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu mengendalikan tikus secara individu, karena sumber makanan tikus tidak selalu berada di hamparan sekitar sarangnya. Dalam mencari makan, tikus akan bergerak secara menyilang atau berkeliling dalam luasan 150 meter, sehingga pengendalian tikus harus dilakukan secara bersama-sama dengan jarak pengendalian minimal 150 meter. “Misalnya seorang petani mengendalikan tikus dengan pengemposan dan pemasangan umpan, tapi ternyata kok tanaman di hamparannya habis juga oleh tikus. Jadi penjelasannya, tanaman petani tersebut habis bukan disebabkan oleh tikus yang bersarang di hamparannya, melainkan tikus yang datang dari hamparan petani lainnya yang berjarak 150 meter,” ungkap Yadi.

Kepala Bidang Pelayanan teknis, Informasi dan Dokumentasi, BBPOPT Jatisari, Suwarman menambahkan pengendalian tikus harus dimulai dari awal, yakni sebelum pengolahan lahan. Beberapa cara atau metode pengendalian dapat dilakukan seperti melalui gropyokan masal, pemasangan umpan, fumigasi atau pengemposan, Trap Barrier System (TBS) dan Light Trap Barrier System (LTBS), serta pemanfaatan musuh alami. “Bahkan, Kementan tahun 2018 lalu telah memberikan bantuan fiber untuk TBS dan LTBS. Waktu itu, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian mengalokasikan bantuan sesuai hasil koordinasi dengan Ditjen Tanaman untuk data wilayah-wilayah yang rawan serangan tikus. Ada 7 provinsi diantaranya Aceh, Sumsel, Sulsel, DIY, Jateng, Jatim dan Jabar seluas 15.551 ha yang kita pasang fiber sepanjang 649.868 meter,” jelasnya.

Jadi, sebut Suwarman, kunci keberhasilan pengendalian tikus ini adalah bagaimana mampu menggerakkan kekompakan para petani. “Kalau dilakukan sendiri-sendiri sama saja hasilnya karena jangkauan habitat tikus ini cukup luas, maka dari itu penting untuk melakukan gerakan pengendalian secara bersama-sama,” ucapnya. (mra/psn/jp)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button