Karawang
Trending

Rukmini Dinobatkan Guru Berdedikasi Kabupaten

radarkarawang.id — Di sebuah ruang kelas sederhana di SMPN 2 Telukjambe Timur, tiap pagi seorang perempuan berkacamata itu datang lebih awal daripada murid-muridnya. Tangannya sibuk membersihkan papan tulis, merapikan bangku, memastikan setiap sudut ruangan siap menyambut proses belajar.

Perempuan itu adalah Rukmini, guru yang telah mendedikasikan 27 tahun hidupnya untuk pendidikan.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, pengabdian sunyi yang selama ini ia jalani akhirnya mendapatkan pengakuan.

Ia dinobatkan sebagai Guru Berdedikasi Tingkat Kabupaten Karawang. Sebuah penghargaan yang baginya bukan sekadar prestasi, tetapi pengingat bahwa perjalanan panjangnya tidak pernah sia-sia.
Karier Rukmini dimulai dari masa-masa penuh keterbatasan. Lima tahun pertama ia jalani sebagai guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa.

“Kadang gaji honorer itu habis hanya untuk ongkos berangkat,” kenangnya.
Namun ia tidak berhenti. “Selama masih bisa mengajar, saya bertahan,” sambungnya.
Setelah itu ia mengabdi lagi sebagai guru bantu selama lima tahun, sebelum akhirnya diangkat menjadi PNS. Dalam SK kepegawaiannya, masa pengabdiannya mungkin tertulis 22 tahun, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ia sudah berada di sekolah jauh lebih lama daripada angka itu.

Bagi Rukmini, menjadi guru bukan pilihan yang diputuskan dengan logika. Ada sesuatu yang lebih kuat.
“Profesi ini panggilan hati. Kalau bukan karena panggilan itu, mungkin saya menyerah sejak lama,” ucapnya.

Dunia pendidikan hari ini jauh berbeda dari saat Rukmini pertama kali mengajar. Anak-anak tumbuh di tengah gempuran teknologi, gawai, dan media sosial. Karakter mereka dibentuk bukan hanya oleh keluarga dan sekolah, tetapi juga dunia digital yang tak pernah tidur.

“Tantangan kita sekarang bukan hanya mengajar, tetapi membentuk karakter. Itu lebih berat, jauh lebih berat,” ujarnya.

Rukmini sering menyaksikan siswa yang kehilangan fokus, mudah terbawa arus pergaulan, bahkan kesulitan membangun kebiasaan belajar dasar. Ia tak ingin mengeluh. Ia memilih untuk hadir.

“Tugas kita membuat anak-anak menjadi lebih baik. Itu saja. Kalau tidak dimulai dari guru, siapa lagi?,” tanya dia.

Baginya, mendidik karakter bukan sekadar mengoreksi nilai atau memberi tugas. Itu pekerjaan jangka panjang, yang hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Meski akhirnya meraih penghargaan, Rukmini justru berkata bahwa ia tak pernah mengejar kemenangan.
“Saya ikut lomba bukan untuk menang. Saya ingin memotivasi guru-guru muda. Kalau masih muda, berprestasilah. Menang itu hanya bonus,” timpalnya.

Rukmini mengikuti kompetisi itu dengan persiapan singkat hanya sekitar satu minggu. Yang dinilai bukan presentasi atau kemasan semata, melainkan rekam jejak pengabdian, kontribusi sosial, prestasi, hingga dampaknya bagi sekolah dan lingkungan.

Ia mengaku sempat terkejut ketika namanya diumumkan sebagai juara. Di balik senyum bangga itu, ada perjalanan panjang yang hanya dikenal oleh orang-orang yang pernah berada di dekatnya. (uty)

Related Articles

Back to top button