Omzet Rp10 Juta Sebulan dari Bertani Kangkung

PURWAKARTA, RAKA – Bertani masih menjadi salah satu mata pencaharian yang masih dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Kabupaten Purwakarta. Meski bertani sering dianggap sebelah mata dan di cap sebagai profesi orang pedesaan. Namun, nyatanya bertani masih cukup menjanjikan bagi sebagian orang. Seperti petani kangkung yang berada di Desa Karangmukti, Kecamatan Bungursari misalnya. Dengan masa tanam kangkung yang cukup singkat, petani dapat meraup omzet hingga Rp10 juta dalam sebulannya.
Seorang petani kangkung, Mail (52) mengatakan, dirinya tetap bertahan menjadi petani kangkung karena profesi tersebut sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu serta tidak memiliki alternatif mata pencaharian lain. Ia mengaku, dengan mengandalkan hasil dari bertani kangkung dirinya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. “Alhamdulillah cukup buat kebutuhan sehari-hari mah,” ucapnya, Minggu (2/6).
Menurutnya, bertani kangkung cukup menjanjikan. Pasalnya dalam sekali panen dirinya bisa menghasilkan 400 ikat gabung kangkung. Satu ikat gabung terdiri dari 20 ikat kecil kangkung dan ia biasa menjual satu ikat gabung kangkung tersebut dengan harga Rp25 ribu. Jika dikalkulasikan dirinya dapat meraup omzet hingga Rp10 juta dalam sekali panennya. “Rata-rata satu tempat bisa sampe 100 gabung. Saya masih ada tiga tempat disana yang mau dipanen,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mail menjelaskan, bahwa kangkung memiliki masa tanam yang relatif singkat yakni hanya membutuhkan waktu 20 hari untuk bisa dipanen. Selain itu kangkung juga sangat mudah dalam perawatannya. “Panennya cepat, perawatannya juga gampang. Paling cuma dikasih pupuk tai ayam sama disemprot urea,” jelasnya.
Meski omzet dari bertani kangkung terbilang cukup besar, Mail mengaku, banyak tantangan yang harus di hadapi. Salahsatunya yakni serangan hama ulat yang seringkali membuat kualitas kangkung menjadi kurang bagus. “Biasanya hama ulat yang menganggu, jadi harus disemprot. Sedangkan sekarang harga pupuk sudah mulai mahal. Jadi sekarang untungnya tipis,” ungkapnya.
Mail menambahkan, kesejahteraan petani kangkung tergantung dari harga jual dipasaran. Sebab, jika harga kangkung sedang anjlok, para petani akan menjerit karena tidak mendapatkan untung. “Kalau sekarang harga di pengepul pasar induk normal, sekitar 25 ribu. Kalau harga lagi murah petani repot,” pungkasnya. (yat)