Purwakarta Rawan Kaki Gajah

KAMPANYE KADER POSYANDU: Kampanye difteri, kaki gajah, serta meminum obat pencegahnya dilakukan petugas Puskesmas Purwakarta, beserta para kader posyandu. Hingga kini, Purwakarta masih menjadi daerah yang rawan kaki gajah.
PURWAKARTA, RAKA – Status kejadialan luar biasa difteri masih belum dicabut dikarenakan di daerah Jawa Barat masih rawan terdampak difteri. Kepala UPTD Puskesmas Purwakarta dr Anno Nugraha mengatakan, pihak Kementerian maupun bupati belum mengeluarkan peraturan untuk mencabut kejadin luar biasa difteri. “Untuk pemberian vaksin ORI difterinya sudah selesai di 2018. Kalau sekarang pemberiannya dilanjutkan dengan biasa. Bulan imunisiasi anak sekolah. Yang rutin itu dari dulu memang sudah ada imunisasi campak anak sekolah untuk kelas 1. Selanjtunya nanti bulan November kelas 1, 2, 3 divaksin tetanus difteri,” terangnya, Jumat (11/10).
Dijelaskannya, walaupun status KLB difterii dicabut, anak sekolah selalu diberikan vaksin tetanus difteri. Namun saat ini pihaknya tengah memfasilitasi warga untuk meminum obat pencegahan masal vilariasis (kaki gajah) yang tengah menginjak pemberian obat tahun terakhir. “Mulai dari tahun 2015 ada pemberian obat untuk mengantisiapasi kaki gajah setiap Oktober. Untuk data di Kecamatan Purwakarta itu ada satu, itu pun kasus lama tahun 2006. Kaki Gajah itu kan menimbulkan kecacatan permanen. Cuma kalau sudah diobati menularnya jadi tidak lagi,” terangnya.
Dia juga mengatakan, setiap bulan Oktober warga diberikan dua macam tablet 1 jenis tablet DEC obat untuk mematikan mikrovilaria (cacing darah) yang mrnyebabkan kaki gajah virus tersebut dibawa oleh nyamuk. Ditambahkannya, obat yang kedua adalah albendazol. Ini diberikan untuk membunuh cacing usus, sekaligus memperkuat kerja DEC. “Untuk usia dua tahun sampai lima tahun dapat DEC 1 tablet Albendazol 1 Tablet , 6 sampai 14 tahun DEC 2 tablet 1 albendazol , 15 sampai 70 tahun DEC 3 tablet dan alvendazol 1 tablet,” paparnya.
Diketahui, bulan Oktober dicanangkan sebagai bulan eliminasi kaki gajah, pihak puskesmas menyalurkan obat tersebut ke pos minum obat yang ada di 38 Posyandu. “Kalau masyarakat minum obat, efektif menghilangkan cacing darah. Saat ini Purwakarta melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO untuk ambang batas cacing darah di tubuh tidak lebih dari satu persen, Purwakarta di atas 2,4 persen,” paparnya.
Setelah pemberian obat di tahun terkahir ini, nantinya akan ada tes lanjutan untuk mengevaluasi hasil dari pemberian obat per lima tahun tersebut. “Nanti ada pengetasan ulang enam bulan yang akan datang. Nanti dites masih ada gak penduduk yang kena, diambil sempel cacing darahnya. Targetnya 2020 Indonesia bebas kaki gajah,” pungkasnya. (ris)