Karawang

Guru PAUD di Desa Jatimulya Dilatih Gunakan Media Pembelajaran dari Limbang Kayu

KARAWANG,RAKA- Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Unsika melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Jatimulya, Kecamatan Pedes. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dosen prodi PIAUD unsika mensosialisasikan tentang pelatihan limbah kayu sebagai media pembelajaran matematika untuk anak usia dini kepada para guru PAUD dan guru sekolah dasar.
Dosen Prodi PIAUD Unsika Ine Nirmala M.Pd mengatakan, bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan yang wajib dilakukan dosen yang merupakan tugas dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan pengabdian kepada masyarakat atau abdimas dilakukan oleh dosen dan berkolaborasi dengan mahasiswa untuk membantu masyarakat dalam memberikan solusi atas masalah–masalah yang ada di lingkungan masyarakat,” katanya, kepada Radar Karawang, Kamis (1/9).
Ine menambahkan, kegiatan pelatihan ini diikuti oleh perwakilan guru PAUD dari lima PAUD yang ada di Desa Jatimulya dan guru SD dari lima SDN di Desa Jatimulya. “Kegiatan ini diikuti sebanyak 12 orang guru PAUD dan sebanyak delapan orang juga ikut meramaikan pelatihan, serta dihadiri oleh Kepala Desa Jatimulya, Ketua Himpaudi, aparat desa dan masyarakat,” tambahnya.
Ine menjelaskan, pengenalan matematika permulaan untuk anak usia dini dengan menggunakan media sangat penting, karena anak usia 5- 6 tahun mempunyai fase berpikirnya konkret operasional yang di mana seluruh kegiatan pembelajarannya harus menggunakan berbagai macam media yang konkret sehingga anak dapat dengan mudah mempelajari konsep–konsep matematika permulaan. “Media pembelajaran yang dibuat dalam kegiatan ini yaitu bernama spinter dan gizelboard. Media spinter berupa media yang terbuat dari kayu bekas yang di bentuk menjadi seperti kicir angin dan di semua sisinya ada potongan kayu yang di berikan lambang bilangan 1-9 sehingga anak dapat memutarkan nya seperti kicir angin sambil mengenal lambag bilangan. Kemuadian untuk gizelboard yaitu media yang berupa papan kayu yang berukuran 30×30 cm dan di salahsatu permukaaan nya memiliki tonjolan paku/tonjolan batang kayu kecil dan seluruh permukaan nya bisa di bongkar pasang seperti puzzle,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber yang berasal dari perajin Deni Hardiansyah yang sudah berpengalaman dalam hal membuat perabot dan kerajinan kayu di daerah Karawang. “Jujur saja untuk ide pembuatan media spinter dan gizelboard berasal dari masukan dosen serta mahasiswa prodi PIAUD dan prodi matematika Universitas Singaperbangsa Karawang serta kebutuhan di lapangan untuk peningkatan kemampuan matematika permulaan anak usia dini,” ucapnya.
Kepala Desa Jatimulya, H. Ato Furtoni menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen Unsika berupa sosialisasi dan pelatihan limbah kayu sebagai bahan ajar. “Saya sangat ucapkan terima kasih kepada Unsika khusus dosen Unsika, mahasiswa. Mudah-mudahan guru-guru PAUD mendapatkan ilmu serta pengalaman dalam memanfaatkan limbah khsusnya limbah kayu yang ada di sekitar untuk bisa dijadikan media ajar,” tandasnya. (fjr)

Related Articles

Back to top button