Bangun Drainase Rusak Fasilitas Warga

PERBAIKI SENDIRI: Warga membangun jembatan kecil di atas drainase yang baru selesai dibangun. Sebelumnya, jembatan tersebut dibongkar dampai dari pembangunan drainase ini, namun setelah pembangunan selesai pekerja tidak membangun jembatan lagi.

Pekerjaan Selesai Tidak Ada Perbaikan

KOTABARU, RAKA – Pembangunan drainase di Desa Pangulah Selatan, Kecamatan Kotabaru yang dilakukan beberapa waktu lalu dinilai merusak fasilitas warga, namun pihak kontraktor tidak memberikan ganti rugi.
Salah satu warga Pangulah Selatan yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, beberapa waktu lalu, drainase atau saluran air di depan halaman rumahnya dilakukan pembangunan, namun pembangunan drainase tersebut juga dilakukan sedikit pelebaran sehingga pagar rumahnya terpaksa dirobohkan. Tidak hanya itu, jembatan kecil pun ikut dibongkar. “Pokoknya pagar rumah saya dibongkar sama pekerjanya karena tanahnya terkeruk,” keluhnya kepada Radar Karawang, Selasa (9/11).

Ia menambahkan, pada saat pelaksanaan berlangsung pihaknya sempat menanyakan ganti rugi soal kompensasi terkait kerusakan fasilitas miliknya kepada mandor. Sebenarnya, ia tidak mempermasalahkan soal kerusakan yang terjadi pada pagar rumahnya, namun ia hanya meminta agar jembatan atau akses ke rumahnya dapat dibuatkan kembali. “Katanya mau dibuatkan lagi kalau pekerjaannya sudah beres. Dan saya juga tidak tahu ini pekerjaan desa atau aspirasi,” tambahnya.

Ia mengaku, setelah pekerjaan selesai pihaknya menyadari bahwa para petugas tidak bertanggung jawab atau kerusakan jembatan menuju rumahnya, dengan terpaksa ia harus menggunakan uang pribadinya untuk membuat jembatan. Sikap yang diperlihatkan oleh petigas tentunya sangat disayangkan oleh pihak warga setempat, pembangunan drainse yang seharusnya memberikan kenyamanan bagi warga malah berdampak dan merugikan. “Selain harus buat jembatan sendiri, waktu pembangunan juga saya tidak bisa lewat karena tidak ada jembatan dan banyak tumpukan tanah,” akunya.

Masih dikatakannya, seharusnya petugas pelaksana pembangunan lebih komunikatif dan bertanggung jawab dari pekerjaanya, sehingga tidak memberikan dampak atau merugikan masyarakat. “Waktu pembangunan saja ngambil airnya di rumah saya, bahkan petugas ngecas HP di rumah saya tapi mereka sendiri tidak bertanggung jawab atas kerusakan dan pergi begitu saja,” katanya.

Saat Radar Karawang hendak mengkonfirmasi terkait kerusakan fasilitas warga karena pembuatan drainase kepada pemerintah desa, kantor desa sudah terlihat sepi dan tidak ada petugas, mengingat waktu jam kerja pelayanan desa dibatasi sampai pukul 12 siang saja. (mal)