Golput Gara-gara tak Dapat Undangan

CIKAMPEK, RAKA – Calon pemilih di Desa Dawuan Timur, Kecamatan Cikampek, kesal dan marah-marah kepada petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Penyebabnya, mereka tak mendapat undangan dan tidak bisa nyoblos.

Dewi Rusnawati (56), warga Dawuan Timur salah satunya. Dia mengaku antusias mengikuti pemungutan suara. Namun saat dirinya datang ke TPS pada jam 10:00 WIB, dirinya terpaksa harus menunggu sampai jam 12:00 WIB karena tidak mempunyai C6 atau surat undangan. “Saya datang pagi ke TPS, karena saya gak punya surat undangan, hanya punya KTP-E. Tapi salah satu petugas KPPS mengatakan belum bisa menerima atau memasukkan untuk memilih, katanya pengguna DPK bisa digunakan pada jam 12 sampai 13 siang,” ujaranya, kepada Radar Karawang.

Setelah menunggu cukup lama, Dewi pun pulang dulu ke rumahnya kemudian balik lagi sebelum pukul 12.00 WIB. Namun setelah sampai di TPS petugas KPPS malah menolaknya. “Kata petugasnya, logistik pemilu habis, jadi arahkan ke TPS yang lain, tepatnya ke TPS terdekat,” ungkapnya.

Dewi mengaku kecewa karena semua TPS tidak bisa memberikan kesempatan dirinya memilih, dengan alasan logistik pemilu habis. “Saya kesel dan kecewa, soalnya dari 8 TPS yang dikunjungi mulai dari TPS 15, 12, 13, 14, 8, 9 dan 28, semua petugas KPPS mengatakan logistiknya sudah habis,” tambahnya.

Saking kesalnya, dia mendatangi kantor desa sambil marah-marah, karena hak pilihnya tidak bisa digunakan. “Saya kecawa dan kesal, karena hak pilih keluarga mulai kakak dan anak saya tidak diberikan. Secara tidak langsung PPK dan panwas menyuruh untuk tidak memilih (golput), ya kami gak mau. Karena ikut berpartisipasi atau menggunakan hak pilih bagian dari menyukseskan pemilu. Sampai akhirnya kami masih tidak bisa menggunakan hak pilih,” imbuhnya.

Ketua KPPS TPS 11 Desa Dawuan Timur Muhammad Wildan Hikmatul Fajar mengakui antusiasme pemilih cukup tinggi. Sebanyak 227 orang melakukan pencoblosan di TPS-nya, atau dari jumlah DPT 278 dan DPK 16. Total mencapai lebih dari 70 persen. “Untuk pengguna hak pilih yang menggunakan KTP-E (DPK), ada sekitar 40 orang. Karena keterbatasan waktu, kami memilih hanya 16 orang DPK, agar pelaksanaan pemilu bisa lancar,” katanya.

Divisi Logistik PPK Cikampek Purwadianto mengatakan, surat suara yang didistribusikan ke masing-masing PPS sudah disesuaikan dengan jumlah DPT, bahkan dalam satu surat suara ditambah 2 persen. “Kami membagikan logistik disesuaikan dengan kebutuhan TPS masing-masing,” jelasnya. (acu)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

4 Comments

  1. Knp desa lain bisa? Msh banyak sisa suara..bahkan pake suketpun mereka di tanggapi memiliki hak suara. Hanya dawuan timur saja. Alasan logistik habis sy tdk percaya.. Tdk transfaran jg

  2. Memang kpu tidak ada antisipasi utk kejadian seperti ini ya?
    Dari ktp-e harusnya kan ada data warga negara yg punya hak pilih itu brp banyak ???
    Ko aneh sampai 8 tps habis semua seperti ini. Dan tidak ada solusi sampai warga negara terlantar semua HAK nya. Hak itu berat tangungannya kl tidak diberikan. Kl banyak kejadian seperti ini, jangan berani bilang ini pemilu yg sukses!!

  3. Radar karawang tolong di usut dong knp bisa kejadian seperti ini? Dari sudut penyelenggaranya jg tanggapannya bagaimana?
    Sudah +2% tapi masih kurang. Apa gak aneh?
    Itu datanya yg salah atau di lapangannya bermasalah?
    Dpt itu sama dg surat undangan??tapi berbeda dg data ktp-e?? Saya gak ngerti! Mohon informasinya. Terima kasih

  4. "Karena keterbatasan waktu, kami memilih hanya 16 orang DPK, agar pelaksanaan pemilu bisa lancar,”

    Memang ada peraturan seperti itu ya, dibatasi 16 orang dpk?

    Slogan dimana mana "gunakan hak pilihmu", giliran mau pakai gak bisa, dimana tanggung jawabnya ? kasian buang2 waktu datang ke 8 tps hasilnya nihil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *