20 Tahun Oci Tinggal di Gubuk Terbuka

GUBUK OCI: Gubuk terbuka yang ditinggali Oci di Desa Selaawi, Kecamatan Pasawahan.

PURWAKARTA, RAKA – Seorang pria paruh baya berusia 59 tahun yang tinggal di sebuah gubuk terbuka di Kampung Cikukulu, Desa Selaawi, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta. Kini, pria yang memiliki kesulitan berkomunikasi sejak kecil bernama Oci tersebut tinggal sendiri setelah ditinggalkan sang ibu yang meninggal dunia 20 tahun silam.

Oci tinggal di gubuk seluas 4×6 meter persegi nyang di bangun yang terbuat dari kayu dan bambu di lahan milik kerabatnya. Bangunan gubuk hanya tertutup sebagian, selebihnya terbuka. Sehingga, tidak jarang hawa dingin sering merasuki tubuh pria paruh baya ini di kala malam hari. Pastinya sangat mengganggu jika ada angin dan hujan.

Jauh dari kehangatan keluarga serta anak cucu, Oci menjalani hidup dengan seadanya. Bahkan, tidak jarang kakek berusia lebih dari setengah abad ini nampak melamun dalam kesepian dan kesendirian, terlebih ia mengalami gangguan jiwa ringan atau orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).

Ketua RT 19/10 Desa Selaawi, Otang (50) menceritakan, Oci memiliki kekurangan dalam berkomunikasi atau gangguan jiwa ringan sedari dulu. Sebenarnya, Oci bisa berbicara, cuma kesulitan berkomunikasi dan karena faktor usia juga yang mengakibatkan pendengarannya terganggu. “Jadi kalau ngomong harus keceng, Mang Oci pasti paham dengan apa yang dibicarakan.” kata Otang, saat ditemui di Gubuk milik Oci, Kamis (25/11).

Akibat kekurangan itu, membuat Oci hingga saat ini belum menikah, sehingga dirinya tinggal di gubuk tersebut sendirian.
Otang menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Oci bekerja sebagai pemulung di sekitar Desa Selaawi. “Untuk makan sehari-hari Mang Oci mengandalkan hasil dari penjualan barang bekas yang dia kumpulkan. Tapi kadang-kadang dia suka minta makan ke rumah saya,” ucap Otang yang juga Oci.

Soal gubuk yang ditinggali Oci, Otang mengaku sudah mengusulkan kepada pemerintah desa agar masuk dalam program rutilahu. “Saya sudah usulkan rumah Mang Oci ini ke pemerintahan desa agar dapat bantuan rutilahu, namun ada yang lebih membutuhkan jadi dialihkan ke orang lain dulu. Bahkan untuk kamar mandi di rumah Mang Oci ini dibuatkan Pak Babinsa waktu itu,” imbuhnya.

Otang berharap ada dermawan ataupun pihak tertentu yang bisa memberikan bantuan pembangunan rumah, agar Oci bisa memiliki tempat tinggal yang layak untuk ditempati. Serta memberikan bantuan lainnya untuk hidup. “Kami tidak mungkin bisa membangunkan gubuk yang layak, makanya kami berharap ada dermawan ataupun pihak terkait yang bisa memperbaiki rumah Mang Oci ini agar layak ditempati,” harapnya. (gan)