Buah Tangan dari Balik Jeruji Besi

BUAH TANGAN NAPI: Petugas Lapas Purwakarta menunjukan hasil karya warga binaan. Dari balik jeruji besi, para narapidana dilatih sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Selanjutnya mereka membuat produk kerajinan tangan yang disesuaikan dengan selera pasar.

PURWAKARTA, RAKA – Berada di balik jeruji besi bukan berarti tidak bisa berkreasi. Justru waktu luang bisa dimanfaatkan dengan sebaiknya. Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purwakarta, para warga binaaanya dididik untuk kreatif. Mereka dilatih untuk membuat produk yang digemari oleh masyarakat luas.

Ada berbagai macam bentuk hasil kerajinan kayu dan besi hasil karya tangan dingin para Warga binaan di sana. Mulai meja, rak buku, lemari minimalis, rak bunga kekinian dan lain-lain. Kalapas Purwakarta Sopiana mengatakan, pelatihan dilakukan dalam upaya memberdayakan warga binaan agar bisa mandiri. Terutama bagi warga binaan yang mempunyai skill, serta keterampilan dalam bidang perkayuan dan perbengkelan. “Melalui kegiatan seperti ini juga bisa terpantau bahwa banyak WBP yang memiliki skill dalam membuat berbagai macam produk kerajinan, serta hasil yang didapatkan juga dikategorikan cukup baik dan mempunyai nilai jual,” ujar Sopiana, Rabu (15/9).

Dia menambahkan, program kemandirian ini merupakan pembinaan dari penyelenggara pemasyarakatan. Pihaknya, punya kewajiban mendidik serta membina para pelanggar hukum agar mempunyai skill dan keterampilan.
“Dengan adanya program kemandirian yang nyata telah memberikan bukti konkret bahwa lapas adalah tempat pembinaan. Nantinya mereka bisa mengembangkan dan memiliki penghasilan sendiri di kemudian hari selepas menjalani masa pidana,” ungkap Sopiana.

Bahkan, kata dia, tak menutup kemungkinan mereka pun akan mampu membuka lapangan kerja bagi warga lainnya di sekitar tempat tinggalnya nanti. “Kami berharap dengan penyaluran bakat dan keterampilan mereka selama di dalam Lapas, akan memberikan penghasilan saat mereka menyelesaikan masa tahanan,” ujarnya.

Dia menambahkan warga binaan yang memproduksi aneka kerajinan tangan ini sebelumnya mendapatkan pelatihan keterampilan kerja dengan syarat awal dilakukan penilaian berdasarkan minat dan bakat masing-masing,sehingga mereka menghasilkan barang sesuai dengan keterampilannya. “Mereka yang ikut pelatihan ini sebelumnya dilakukan asessment, kemudian kelakuan WBP dalam kesehariannya, kemudian ditinjau dari pidananya. Jika semuanya cukup syarat, mereka baru kita pekerjakan, jadi tidak serta merta langsung dipekerjakan,” terangnya. (gan)