Emak-emak di Plered Kembali Tutup Jalan

DEMO LAGI: Emak-emak di Kampung Cipetir, Desa Liunggunung, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta kembali menggelar aksi menutup jalan karena tuntutan mereka sebelumnya tidak dipenuhi.

PURWAKARTA, RAKA – Tuntut perbaikan jalan yang rusak dan tak kunjung direalisasikan, sejumlah ibu-ibu dan warga Kampung Cipetir, Desa Liunggunung, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Senin (21/2), kembali melakukan penutupan jalan.
Sebelumnya, warga sempat menggelar aksi serupa pada 9 Februari 2022 lalu. Mereka memblokade jalan desa menggunakan kayu, batu, kursi, hingga ban mobil di tengah jalan.
Rusaknya jalan tersebut, dituding akibat ulah aktifitas truk bermuatan berat dari sejumlah perusahaan tambang batu yang melintasi jalan tersebut setiap harinya. Termasuk lemahnya peran pemerintah daerah.
Salah satu warga di sana, Aas Sopiah mengatakan, aktifitas perusahaan batu di wilayah tersebut sudah berjalan sekitar 30 tahun. Selama itu pula, warga Kampung Cipetir merasa terganggu dengan aktifitas hilir mudiknya truk pengangkut batu dan diperparah dengan rusaknya jalan hingga mengakibatkan kecelakaan bagi warga setempat maupun pengguna jalan lainnya.
“Sudah puluhan tahun kami terganggu bahkan rusaknya jalan sudah memakan korban akibat kecelakaan. Namun pihak perusahaan tidak mau tahu, dan hanya janji-janji saja, tapi hingga hari ini jalan tidak juga diperbaiki,” kata Aas saat dutemui di lokasi penutupan jalan.
Dia menjelaskan, aksi penutupan jalan yang merupakan akses menuju sejumlah perusahaan tambang batu itu, rencanannya akan berlangsung hingga tiga hari ke depan sampai pihak perusahaan mengabulkan permintaan warga terkait perbaikan jalan.
“Pokoknya kami ingin jalan dicor beton. Kalau cuma tambal sulam saja percuma, turun hujan jadi becek dan ada kubangan, kalau tidak hujan jalan berdebu. Kaca-kaca warga di sini banyak yang pecah akibat batu yang terlempar saat truk lewat. Kami sudah bosan perbaiki kaca rumah kami, besoknya pecah lagi,” imbuhnya.
Pengurus Karang Taruna di desa Liunggunung, Dadang Hermawan menambahkan, setiap harinya truk pengangkut batu yang melintasi jalan tersebut berkisar 300 hingga 500 armada.
Selama ini, kata dia, bantuan perbaikan jalan dari perusahaan hanya ala kadarnya dan itu pun direspon perusahaan jika sebelumnya warga mengusulkan perbaikan atau menggelar aksi protes.
“Kalau diprotes atau ada usulan, baru ada untuk perbaikan seperti perusahaan kirim batu split atau pasir. Tapi kan itu hanya untuk sementara, besok nya hujan misalnya, rusak lagi. Sementara, perbaikan secara permanen cuma janji-janji saja” beber pria yang akrab disapa Joni itu.
Rencananya, sambung Joni, warga dan perusahaan akan dipertemukan untuk mencapai kesepakatan atau solusi dari permasalahan tersebut. Namun warga pesimis, mediasi tersebut tidak akan berbuntut manis seperti yang sudah sering terjadi.
“Hari ini ada mediasi dengan perusahaan di kantor kecamatan. Tapi sebenarnya warga sudah bosan dengan mediasi, kami ingin solusi, kami tidak ingin yang macam-macam, kami hanya ingin jalan kami diperbaiki, dicor. Itu saja,” tandasnya. (gan)