Guru Tempuh Jalur Ekstrem 20 KM

JALAN SUNGAI: Unandar, guru yang bertugas di Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, harus melalui medan yang cukup berat untuk menuju sekolah tempatnya mengajar. Bebannya semakin bertambah manakala hujan turun.

Tanpa Jalan Mulus, Terjal, Tanpa Jembatan

PURWAKARTA, RAKA – Tidak ada jalan mulus, jembatan dan harus melintasi jalan terjal saat hendak pergi mengajar di daerah terpencil Kecamatan Sukasari. Seorang guru di SDN 1 Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, harus menempuh perjalanan 20 kilometer setiap harinya.

Selain jarak yang cukup jauh, medan yang harus dilaluinya cukup menantang. Jalan terjal, berbatu, hingga melintasi sungai karena belum ada jembatan. Namun hal tersebut, tidak membuat Unandar malas-malasan untuk menunaikan kewajibannya.

Setiap harinya, pria berusia 39 tahun itu rela menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam menuju ke SDN 1 Parungbanteng dengan menggunakan sepeda motor. Itu pun jika cuaca dalam keadaan normal. “Kami setiap hari berangkat dari rumah di Kecamatan Tegalwaru menuju tempat kerja di SDN 1 Parungbanteng menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam,” kata Unan, Rabu (23/11).

Infrastruktur jalur yang dilaluinya, sepenuhnya belum selesai. Masih banyak jalan yang masih terjal, berlumpur, serta harus melintasi sungai karena ada sebuah jembatan yang hingga kini pembangunannya belum selesai. Sehingga bisa saja mengancam jiwa jika musim hujan seperti saat ini.

Jika musim kemarau, kendaraan yang dimilikinya bisa menerabas sungai. Namun jika musim hujan seperti saat ini, dirinya melewati sungai dengan berjalan kaki. “Karena tidak bisa dilalui kendaraan bermotor,” ujar pria yang sudah mengabdi kurang lebih 20 tahun di SDN dan SMPN Satap 1 Parungbanteng itu.

Selain melalui darat dengan motor, sebenarnya ada alternatif lain dengan menyeberangi Danau Jatiluhur menggunakan perahu. Namun di musim hujan seperti ini, melewati jalur air dengan menyebrang Danau Jatiluhur cukup beresiko. Seperti banyaknya eceng gondok. “Bisa saja kami terjebak eceng gondok itu dan membuat kami tidak bisa berangkat ke sekolah. Terlebih perahu yang biasa kami gunakan mengalami kerusakan dan tidak bisa dipergunakan,” tutur pria yang diangkat sebagai aparatur sipil negara tahun 2010 tersebut.

Karenanya, kata Unan, dirinya bersama para guru lainnya mau tak mau menggunakan jalur darat, meskipun harus menunggu debit air sungai hingga surut agar bisa dilewati dan bisa sampai tujuan. Akibatnya, ia sering terlambat datang ke sekolah lantaran menunggu debit air turun ataupun berjalan kaki menyusuri dan menaiki bangunan jembatan yang belum selesai.

Diakuinya, menggunakan jalur darat menaiki motor memakan banyak tenaga dan biaya. Meski demikian, dirinya tetap antusias, tetap harus dijalani karena sudah menjadi kewajibannya dalam mengajar peserta didik di sekolah tersebut. “Bagi kami tidak ada kata rintangan, yang ada hanya tantangan,” jelasnya Unan.

Diakuinya, majunya pendidikan di wilayah perkotaan, berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan di daerah terpencil. Di SDN 1 Parungbanteng, guru yang berstatus ASN hanya dua orang dan SMPN Satap 1 Parungbanteng itu ada tiga orang. Di SMPN Satap 1 Parungbanteng, katanya, guru yang berstatus ASN ada 3 orang, sementara guru tidak tetap (GTT) berjumlah 7 orang. “Sedangkan di SDN 1 Parungbanteng guru berstatus ASN ada 2 orang, CPNS 3 orang, GTT ada 6 orang dan 1 kepala sekolah. Hampir 70 persen guru berada di luar Kecamatan Sukasari,” bebernya.

Unan berharap, pemerintah dan pihak terkait melirik bagaimana keadaan sekolah di SDN dan SMPN Satap 1 Parungbanteng. “Kami butuh perhatian untuk dunia pendidikan yang selayaknya seperti apa. Kami sangat berharap perhatian pemerintah, agar dunia pendidikan di sini yang bisa dibilang Papua-nya Kabupaten Purwakarta lebih maju,” harap Unan.
Unan dan guru lainnya berharap ada motor dinas dari pemerintah untuk guru di perbatasan yang sesuai dengan medan jalan dan kondisi geografis. “Kalau motornya sesuai medan, mungkin tidak terlalu kerepotan, kadang motor saya sering mogok. Maklum udah tua dan sering ke bengkel,” pungkas Unan seraya tersenyum. (gan)