Napi Kembangkan Pertanian Hidroponik


BERTANI DI LAPAS: Warga binaan Lapas Purwakarta menyemprot tanaman sayuran hidroponik. Terbatasnya gerak dan ruang, bukan halangan untuk bertani. Namun tidak semua warga binaan bisa beraktifitas, ada persyaratan yang harus mereka lewati sebelumnya.

PURWAKARTA, RAKA – Ruang gerak yang terbatas, ditambah lahan yang terbatas, bukan menjadi alasan untuk tidak bisa bertani. Para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Purwakarta memanfaatkan waktu luang mereka, serta area lapas yang sempit untuk bertani dengan metode hidroponik.

Kepala Lapas Purwakarta Sopiana mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari membekali warga binaan agar mandiri ketika keluar dari lapas. “Kegiatan ini merupakan bentuk kegiatan pembinaan bagi warga binaan,” ujarnya, Minggu (19/9).
Dia menjelaskan, terbatasnya luas lahan Lapas Purwakarta membuat pihak lapas mencari cara lain untuk bisa bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, yakni budidaya tanaman hidroponik.

Sopiana mengatakan, tanaman hidroponik yang dibudidayakan adalah jenis sayuran kangkung dan pakcoy dengan menanamnya bukan di media tanah, tetapi memanfaatkan media air larutan bernutrisi.
Pihaknya telah memulai tanaman hidroponik sejak 2020 silam, dengan menggunakan pipa paralon 2,5 inci, netpot hidroponik, mesin pompa air dan pupuk. “Selama ini hasil dari tanaman sayur dijual kepada petugas Lapas Purwakarta dan warga sekitar, sehingga bisa menambah penghasilan WBP,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kegiatan pertanian hidroponik berlangsung secara kontinyu dan dapat bermanfaat bagi para warga binaan. “Tanaman hidroponik ini terus dikembangkan sebagai modal ilmu bagi mereka ketika bebas nantinya dan mengembangkan bakat yang mereka miliki sebelumnya,” kata dia.

Sopiana menyebut, tak semua warga binaan bisa mengikuti kegiatan ini, karena sebelum diberikan pelatihan, warga binaan dilakukan asessment terlebih dulu. “Kemudian kelakuan WBP dalam kesehariannya, kemudian ditinjau dari pidananya. Jika semuanya cukup syarat, mereka baru kita libatkan. Jadi tidak serta merta langsung dipekerjakan,” bebernya.

Selain pembinaan ilmu budidaya tanaman hidroponik, lanjut Sopiana, warga binaan di Lapas Purwakarta juga mendapatkan pembinaan mental, agama dan jasmani yang terus dilakukan. “Kami mengingnkan WBP ini saat bebas nanti memiliki modal ilmu yang kuat untuk menjalani hidup bersama keluarganya. Dan tentunya tidak mengulangi perbuatan yang dapat membuatnya kembali masuk ke Lapas Purwakarta ini,” tandasnya. (gan)