Purwakarta
Trending

Rahasia Renyah Simping Kaum, Jajanan Klasik Purwakarta yang Tak Lekang Oleh Zaman

PURWAKARTA, RAKA – Di tengah maraknya jajanan kekinian yang silih berganti viral di media sosial, Simping Kaum justru membuktikan diri tetap bertahan dan kian diburu, terutama saat Ramadan. Camilan tradisional khas Purwakarta ini tidak tampil mencolok, namun kesederhanaannya menjadi kekuatan utama yang sulit tergantikan.

‎Di sentra oleh-oleh sekitar Alun-alun Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, deretan simping dalam kemasan plastik transparan tampak tersusun rapi di etalase. Saat kemasan dibuka, aroma kencur langsung tercium. Teksturnya tipis dan renyah, dengan warna putih kekuningan untuk rasa original serta varian hijau pandan dan cokelat untuk selera modern.

‎Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, simping dipercaya telah ada sejak masa kerajaan di tanah Pasundan. Dahulu, kudapan tipis berbentuk bundar ini konon hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Kini, Simping Kaum berubah menjadi camilan merakyat yang mudah ditemukan, terutama di kawasan sekitar Alun-alun Purwakarta.

‎Salah satu produsen yang masih setia mempertahankan cara tradisional adalah Simping Rahayu milik Mari Maryani (64), warga Kampung Kaum, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta. Di rumah produksinya yang sederhana, proses pembuatan simping tetap menggunakan tungku dan cetakan khusus berbentuk bulat pipih.

‎Adonan cair berbahan tepung terigu, tapioka, santan, daun bawang, garam, dan kencur dituangkan ke dalam cetakan, lalu dipanggang di atas api kecil. Dalam hitungan menit, lembaran tipis itu mengering dan diangkat satu per satu sebelum dikemas.

‎“Saya dan suami mulai membuat dan menjual simping sejak tahun 1990-an. Dulu dipasarkan sampai Plered, Darangdan, bahkan Cikampek. Sekarang setelah suami meninggal, saya fokus jualan di pusat oleh-oleh sekitar alun-alun,” ujar Mari, Rabu (4/3).

‎Ia menuturkan, rasa kencur tetap menjadi favorit pembeli yang mencari cita rasa otentik. Meski kini tersedia varian pandan, stroberi, nangka hingga cokelat, pelanggan lama tetap memburu varian asli yang gurih dan sedikit asin dengan aroma kencur dominan.

‎Menurut Mari, momentum Ramadan membawa berkah tersendiri. Produksi meningkat signifikan dibanding hari biasa. “Kalau bulan puasa bisa sampai 100 bungkus per hari. Total adonan sekitar 10 kilogram,” katanya.

‎Setiap bungkus berisi 130 gram simping dijual Rp10.000 selama Ramadan, naik dari harga normal Rp9.000 di luar bulan puasa. Kenaikan itu, jelasnya, mengikuti lonjakan harga bahan baku yang hampir selalu terjadi menjelang Lebaran. Ia memastikan harga akan kembali normal setelah kondisi pasar stabil.

‎Pantauan di lapangan menunjukkan mayoritas pembeli merupakan warga pendatang yang hendak mudik atau berziarah. Simping kerap diborong sebagai oleh-oleh khas Purwakarta, terutama saat musim kunjungan ke makam ulama di sekitar Masjid Agung.

‎Tak hanya disantap langsung, camilan ini juga dikreasikan menjadi “sandwich tradisional” dengan isian gulali arum manis atau permen rambut nenek yang dijepit dua lembar simping rasa manis. Untuk varian kencur, Mari punya cara tersendiri menikmati kudapan tersebut.

‎“Kalau saya, simping kencur itu enaknya diolesi selai nanas. Rasanya jadi unik, boleh dicoba di rumah,” ujarnya.

‎Di saat jajanan modern berlomba mencari sensasi, Simping Kaum membuktikan bahwa rasa autentik dan konsistensi kualitas tetap menjadi alasan utama sebuah kuliner tradisional bertahan lintas generasi. (yat)

Related Articles

Back to top button