Purwakarta
Trending

Rutin Tahunan Ikan Mati Massal di Jatiluhur

PURWAKARTA, RAKA – Fenomena kematian massal ikan kembali menghantui Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Peristiwa ini dipastikan dipicu oleh upwelling atau umbalan, fenomena alam tahunan yang kerap muncul saat musim hujan akibat perubahan cuaca ekstrem.

‎Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Purwakarta, Anton Kushartono, menjelaskan bahwa upwelling merupakan kejadian alami yang hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama pada periode November hingga Maret.

“Upwelling ini bukan hal baru. Ini fenomena rutin tahunan yang berkaitan langsung dengan perubahan cuaca, khususnya saat musim hujan,” ujar Anton, Jumat (23/1).

Anton mengungkapkan, Waduk Jatiluhur secara administratif terbagi ke dalam empat zona. Namun hingga saat ini, laporan resmi kematian ikan baru diterima dari Zona 1, yang meliputi wilayah Desa Cikembang, Desa Jatiluhur, dan Desa Cibinong.

‎“Belum semua zona terdampak. Laporan yang masuk ke kami sementara baru dari Zona 1,” katanya.
Ia menegaskan, pihaknya sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi sejak jauh hari. Diskanak Purwakarta telah mengirimkan surat imbauan kepada para pembudidaya ikan sejak Agustus, yang kemudian diperkuat kembali pada Desember menjelang puncak musim hujan.‎

“Imbauannya jelas, mulai dari pengurangan kepadatan tebar benih, pengendalian jumlah ikan di keramba, sampai penyesuaian masa panen agar risiko kerugian bisa ditekan,” jelas Anton.

Selain itu, Diskanak juga mengingatkan pembudidaya agar tidak menyepelekan penanganan ikan mati. Menurut Anton, bangkai ikan yang dibiarkan mengapung justru dapat memperparah kondisi perairan.

“Ikan mati jangan dibiarkan di air. Harus segera diangkat dan dikubur atau dibawa ke darat. Kalau dibiarkan, itu bisa memicu bakteri dan memperluas dampak kematian ikan,” tegasnya.

Dalam menghadapi periode rawan upwelling, Anton menyebut sebagian besar pembudidaya di Waduk Jatiluhur sebenarnya telah melakukan penyesuaian pola produksi. Siklus panen ikan nila yang biasanya mencapai empat kali setahun, dikurangi menjadi tiga kali panen.

“Biasanya mulai November, pembudidaya sudah mengurangi bahkan menghentikan penebaran benih. Kalau sudah terlanjur tanam, mereka mempercepat panen sebelum cuaca memburuk,” ungkapnya.

Beberapa pembudidaya bahkan melakukan inovasi sederhana untuk menjaga kadar oksigen di keramba, salah satunya dengan menggunakan mesin alkon yang disambungkan ke selang berlubang guna menciptakan sirkulasi air.

“Cara itu cukup membantu, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko,” tambah Anton.
Ia pun berharap pembudidaya tidak berspekulasi berlebihan dan tetap mengikuti pola tanam yang telah direkomendasikan.

“Kami imbau cukup tiga kali panen dalam setahun. Kalau pola ini dijalankan, harapannya kerugian bisa ditekan dan tidak terlalu signifikan,” pungkasnya. (yat)

Related Articles

Back to top button