
KARAWANG, RAKA– Di Desa Sukakerta, aroma tanah basah dari sawah dan semilir angin laut bukan hanya bagian dari lanskap alam tapi juga napas kehidupan warganya. Desa yang terletak di pesisir utara Karawang ini menjadi potret desa agraris-pesisir yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.
Menurut Sekretaris Desa Sukakerta, Kartaman, masyarakat setempat menggantungkan hidup dari dua sektor utama: pertanian dan perikanan, yang telah menjadi tulang punggung ekonomi desa sejak puluhan tahun lalu.
“Pertanian dan perikanan adalah napas Sukakerta. Mayoritas warga kami hidup dari sawah dan laut,” ujarnya.
Sebanyak 50% warga berprofesi sebagai petani, memanfaatkan lebih dari 400 hektare lahan pesawahan yang subur.
Sementara itu, 40% lainnya adalah nelayan, yang setiap hari melaut demi membawa pulang hasil tangkapan dari perairan utara Jawa. Sektor lainnya terdiri dari 8% wirausaha dan 2% karyawan, yang tersebar di sektor informal dan jasa.
Meski mengandalkan sektor primer, pendapatan warga Desa Sukakerta cukup menjanjikan, dengan rata-rata pendapatan per kapita mencapai Rp 3 juta per bulan.
Namun demikian, tantangan tetap ada angka kemiskinan desa masih berada di kisaran 8%, yang menjadi fokus perhatian pemerintah desa.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya bergantung pada satu sektor saja. Kami ingin membuka lebih banyak peluang usaha dan meningkatkan pendidikan,” harap Kartaman.
Dengan potensi alam yang kaya dan semangat warga yang kuat, Desa Sukakerta punya peluang besar untuk tumbuh menjadi desa mandiri dan berdaya saing, tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai kebersamaan.
Sukakerta bukan sekadar nama di peta, tetapi cerminan dari desa yang tumbuh bersama alam, menjaga budaya, dan menatap masa depan dengan keyakinan.(uty)



