Siswa Dilarang Bawa Motor ke Sekolah, Kadisdik Jabar: Dorong Pelajar Jalan Kaki Agar Sehat

PURWAKARTA, RAKA – Momentum halal bihalal di Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah IV Jawa Barat berubah menjadi panggung penegasan arah baru dunia pendidikan. Bukan sekadar ajang silaturahmi, kegiatan ini justru menyoroti berbagai persoalan klasik di sekolah yang kini diminta segera dibenahi secara serius.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, secara tegas menyebut KCD Wilayah IV sebagai barometer perubahan. Ia menilai langkah-langkah pembenahan yang dilakukan di wilayah ini, meski dimulai dari hal kecil, berpotensi menjadi standar baru bagi daerah lain.
“KCD IV ini menjadi perhatian. Apa yang dilakukan di sini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujar Purwanto dalam arahannya, Rabu (1/4).
Namun, di balik pujian itu, terselip kritik tajam terhadap kondisi sekolah yang dinilai masih semrawut, khususnya terkait keberadaan pedagang di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan bahwa sekolah tidak boleh lagi menjadi “pasar bebas” yang mengabaikan kesehatan dan ketertiban.
“Sekolah jangan menjadi objek jualan yang tidak tertata,” tegasnya.
Ia juga meminta kepala sekolah turun tangan langsung mengedukasi pedagang agar menjual makanan sehat serta menjaga kebersihan lingkungan.
Tak hanya itu, isu kedisiplinan siswa turut disorot. Purwanto menilai kebiasaan siswa membawa kendaraan bermotor ke sekolah perlu dikendalikan secara ketat. Ia bahkan mendorong kebijakan berani: membatasi hingga melarang siswa yang belum memenuhi syarat untuk membawa kendaraan.
“Program sekolah tanpa kendaraan bermotor harus didorong. Siswa dianjurkan berjalan kaki agar lebih sehat,” katanya.
Secara tidak langsung, ia juga mengkritisi praktik penitipan kendaraan di rumah warga sekitar sekolah yang kerap menjadi celah pelanggaran aturan. Sekolah diminta melakukan pendataan siswa yang sudah memiliki SIM serta menertibkan praktik tersebut.
Di sisi lain, Purwanto menekankan bahwa kepala sekolah tidak boleh hanya menjadi administrator, tetapi harus menjadi inovator.
Ia mendorong lahirnya berbagai terobosan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, nyaman, dan melibatkan partisipasi aktif siswa.
Menghadapi Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), koordinasi lintas jenjang pendidikan juga menjadi perhatian. SMA dan SMK diminta aktif berkolaborasi dengan SMP dan MTs untuk memetakan minat siswa melalui sistem aplikasi peminatan yang tengah disiapkan pemerintah.
Ia menambahkan, arahan Gubernur Jawa Barat menitikberatkan pada pembentukan kebiasaan positif di sekolah sebagai fondasi utama peningkatan disiplin dan kesehatan siswa.
Kegiatan yang dihadiri para kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB, pengawas, serta perwakilan sekolah swasta dari Purwakarta, Subang, dan Karawang ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni semata.
Lebih dari itu, forum ini menjadi titik tekan agar seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak membangun wajah baru pendidikan yang lebih tertib, sehat, dan berkarakter di Wilayah IV. (yat)



