Purwakarta
Trending

Sosok Sumarna: Satpam Jatiluhur yang Dicintai Warga

PURWAKARTA, RAKA – Di tengah proses penyelidikan atas kematian Sumarna (42), petugas keamanan Perum Jasa Tirta (PJT) II di kawasan Waduk Jatiluhur, keluarga, rekan kerja, dan warga memilih mengenang sosok almarhum sebagai pribadi yang sederhana, santun, serta penuh perhatian kepada orang-orang di sekitarnya.

Selama sekitar 17 tahun bertugas menjaga kawasan Waduk Jatiluhur, Sumarna dikenal bukan hanya sebagai petugas keamanan, tetapi juga figur yang akrab dengan masyarakat. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komandan Regu (Danru) Linmas Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur.

Di mata keluarga, Sumarna merupakan ayah yang selalu berusaha meluangkan waktu di tengah kesibukan bekerja.

Putra sulungnya, Gerald Surya Pratama (17), mengatakan sang ayah memiliki kebiasaan sederhana yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya. Mulai dari mengantar dirinya ke sekolah, menonton pertandingan sepak bola bersama, hingga mengajak keluarga berlibur saat memiliki waktu luang.

“Kalau sama bapak itu sering ngobrol, nonton bola bareng. Kalau ada waktu juga suka jalan-jalan sama saya dan adik,” kata Gerald, Rabu (29/7/2026).

Menurut Gerald, kedekatannya dengan sang ayah membuat kepergian Sumarna menjadi kehilangan yang sangat berat bagi keluarga.

“Saya dekat banget sama bapak. Dulu sering dianter sekolah juga sama beliau,” ujarnya.

Salah satu kenangan yang paling diingat Gerald adalah ketika ayahnya mengajak keluarga berkunjung ke Masjid Al Jabbar di Bandung. Meski belakangan jarang bepergian karena kesibukan masing-masing, Sumarna tetap berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama istri dan kedua anaknya.

Istri korban, Siti Maryam, juga mengenang suaminya sebagai sosok yang disiplin dan religius. Sebelum berangkat bekerja, Sumarna selalu berpamitan kepada keluarga dan membiasakan diri berdoa memohon keselamatan.

Maryam mengingat, pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia, suaminya tampak lebih lelah dari biasanya. Bahkan, rutinitas mengikuti yasinan setiap malam Jumat terpaksa ditinggalkan karena memilih berangkat lebih awal ke tempat kerja.

“Kelihatannya memang seperti kelelahan. Biasanya kalau malam Jumat berangkat lebih sore karena ikut yasinan dulu, tapi malam itu berangkatnya lebih awal dan tidak ikut rutinan,” tutur Maryam.

Di lingkungan kerja, Sumarna dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan menjalankan tugas dengan pendekatan yang humanis.

Rekan kerjanya, Solihin, mengatakan selama bertahun-tahun bertugas bersama, ia tidak pernah melihat almarhum memiliki persoalan dengan siapa pun.

“Beliau orangnya baik, baik kepada warga maupun anak-anak yang sering nongkrong di sini. Orangnya juga tidak banyak macam-macam,” kata Solihin.

Menurutnya, Sumarna selalu mengedepankan cara yang santun ketika mengingatkan pengunjung yang masih berada di kawasan Waduk Jatiluhur hingga larut malam.

“Beliau terkenal santun kalau mengingatkan orang-orang yang nongkrong malam. Karena juga menjabat Danru Linmas Desa Kembangkuning, beliau dekat dengan warga,” ujarnya.

Solihin juga menegaskan bahwa informasi yang sempat beredar di media sosial mengenai unggahan status WhatsApp yang dikaitkan dengan korban tidak benar. Ia memastikan unggahan tersebut merupakan milik petugas keamanan lain.

Kesan serupa disampaikan warga sekitar, Edoy. Ia mengenal Sumarna sebagai sosok yang ramah, tegas saat bertugas, namun tetap mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat.

“Selama saya di sini, beliau orangnya sangat baik, ramah, lugas, luwes, tetapi juga tegas. Saya tidak pernah melihat beliau punya masalah dengan orang lain,” katanya.

Edoy mengaku kerap menemani Sumarna saat bertugas pada malam hari. Selama itu pula, ia tidak pernah mendengar korban menceritakan persoalan pribadi ataupun konflik dengan orang lain.

Sementara itu, warga lainnya, Isnawati, mengaku masih terkejut saat mendengar kabar meninggalnya Sumarna. Baginya, almarhum merupakan pribadi yang rendah hati dan tidak pernah lupa menyapa warga setiap kali bertemu.

“Orangnya baik, humble, komunikasinya juga ramah dengan masyarakat. Terakhir saya bertemu hari Rabu pagi, hanya saling menyapa. Saat mendengar beliau meninggal saya sangat kaget,” ujarnya.

Di balik kasus kematiannya yang hingga kini masih diusut aparat kepolisian, sosok Sumarna meninggalkan kesan mendalam bagi keluarga maupun masyarakat. Ia dikenang sebagai ayah yang penyayang, petugas keamanan yang berdedikasi, serta pribadi yang mengedepankan keramahan dalam menjalankan tugas.

Diketahui, Sumarna ditemukan meninggal dunia saat bertugas di kawasan Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026). Hingga kini, Satreskrim Polres Purwakarta masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi dan menganalisis hasil autopsi guna mengungkap penyebab pasti kematian korban. (yat)

Related Articles

Back to top button