
PURWAKARTA, RAKA – Warga Desa Cilalawi, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, masih menghadapi sejumlah persoalan yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.
Aktivitas pertambangan yang berlangsung di sekitar wilayah desa menjadi salah satu keluhan utama.
Debu dari truk pengangkut material dan mesin produksi membuat udara tercemar, sementara jalan desa kerap mengalami kerusakan akibat kendaraan berat yang setiap hari melintas.
Masyarakat menilai dampak dari kegiatan tambang bukan hanya sebatas infrastruktur, tetapi juga kesehatan.
Beberapa warga mengaku sering mengalami gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga masalah kulit. Upaya penyiraman jalan yang dilakukan perusahaan dianggap tidak cukup untuk mengurangi polusi debu.
Kepala Desa Cilalawi, Denden Syarifudin, membenarkan bahwa persoalan tersebut masih menjadi perhatian bersama.
Ia menegaskan bahwa pihak desa sejauh ini belum menerima dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR secara formal.
“Memang benar, sampai sekarang desa tidak pernah menerima dana CSR dari perusahaan tambang. Perbaikan jalan yang ada sejauh ini hasil musyawarah dengan pihak kecamatan,” ujarnya.
Denden menambahkan bahwa pemerintah desa siap menindaklanjuti laporan warga, khususnya terkait dampak kesehatan. Ia meminta agar masyarakat tidak ragu melapor bila ada masalah yang dirasakan.
“Perangkat desa siap turun melayani warga. Jadi kalau ada keluhan soal kesehatan, segera sampaikan ke desa supaya bisa ditindaklanjuti dengan dinas kesehatan,” katanya.
Selain persoalan tambang, desa ini juga berhadapan dengan keterbatasan air bersih di musim kemarau. Beberapa wilayah, seperti Kampung Cianip, mengalami kekeringan sehingga warga bergantung pada distribusi bantuan air. Pemerintah daerah telah mengirimkan pasokan, namun kebutuhan warga dinilai masih cukup besar.
Denden menyebut bahwa pemerintah desa terus berusaha mengoptimalkan penggunaan dana desa untuk perbaikan infrastruktur, termasuk pembangunan drainase di lokasi rawan banjir. Namun ia mengakui, keterbatasan anggaran menjadi kendala.
“Kami sudah mengalokasikan dana untuk memperbaiki beberapa titik jalan dan drainase, tapi beban kerusakan karena aktivitas truk tambang jauh lebih besar dibanding kemampuan dana desa,” jelasnya.
Warga berharap perusahaan tambang dapat menunjukkan tanggung jawab sosial yang nyata, bukan sekadar penyiraman jalan atau perbaikan kecil yang sifatnya sementara. Denden pun menyampaikan harapan serupa.
“Kami ingin perusahaan juga ikut terlibat lebih serius dalam menjaga lingkungan dan memperbaiki jalan. Kalau hanya mengandalkan anggaran desa, tentu tidak akan cukup,” tuturnya.
Dengan berbagai persoalan tersebut, Desa Cilalawi masih memerlukan dukungan semua pihak, baik dari pemerintah daerah maupun perusahaan. (yat)



