Bisnis Batu Bata Babak Belur

MEMBUAT BATA: Ajja sedang membakar bata merah di pembuatan bata, Desa Mekarmulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Minggu (26/1). Usaha yang sudah digelutinya 10 tahun semakin terpuruk karena kalah bersaing dengan bata ringan.

TELUKJAMBE BARAT, RAKA – Haji Ajja sudah 10 tahun memiliki usaha batu bata di Desa Mekarmulya, Kecamatan Telukjambe Barat. Lio (tempat pembuatan bata) yang Dia bangun dulu berdiri di atas lahan yang harganya masih relatif murah, begitupun harga lahan yang dia beli sebagai sumber bahan baku usahanya. Selain dirinya, di desa tersebut dulunya juga banyak yang memiliki usaha demikian. “Yang masih lanjut sama yang sudah berhenti itu, masih banyakan yang sudah berhenti,” tuturnya kepada Radar Karawang, Minggu (26/1).

Lesunya usaha batu bata tak lepas dari hadinya bata ringan, yang saat ini memang kerap lebih dipilih oleh para pengembang karena harganya yang relatif lebih murah. Di samping itu ada faktor lain yang membuat usaha batu bata ini tak bergairah, diantaranya harga lahan tanah yang saat ini semakin mahal, sementara harga jual bata sejak dulu relatif stagnan Rp250 per bata. “Harga tetap, cuma 250 juga diutang,” keluhnya.

Bukan hanya itu, kayu yang menjadi bahan pembakaran juga saat ini terbilang lebih mahal ketimbang beberapa tahun yang lalu. Saat itu harga kayu hanya berkisar Rp400 ribu per truk, namun saat ini mencapai Rp1,5 juta. Hal ini tentu menambah biaya produksi yang pada akhirnya mengurangi pendapatan para pengusaha batu bata. “Perbandingan dulu dengan sekarang, harga jual lebih mending dulu, harga jual tinggi harga barang modal di bawah,” ceritanya.

Ia sudah pasrah dengan keadaan, bahkan usahanya ini hanya akan berjalan selama dua tahun lagi. Di sisi lain, para pengusaha batu bata yang lionya telah rubuh akibat angin ataupunn terbakar, tidak ada yang kembali membangun lio. Tidak ada juga warga lainnya yang memulai membuka usaha batu bata yang baru, jikapun ada bisa jadi dikatakan gila karena terlalu berani mengambil resiko. “Saya juga ini paling cuma buat makan sehari-hari, kalau ada yang bikin baru mah buat bangun lionya saja Rp25 juta, gak bakal balik modal,” ujarnya.

Salah satu pekerja Fendi Pradana (28) membuat lio membutuhkan proses yang lama, bergantung pada cuaca seperti cerahnya matahari. Saat musim kemarau produksi bata bisa dilakukan sampai tiga kali pembakaran, namun saat musim hujan hanya bisa sekali pembakaran. Diceritakannya, jika satu lahan telah habis dikeruk sedalam 6 meter, harus berpindah mencari lahan lainnya. Hal ini membuat tambahan biaya operasional dan membuat usaha batu bata ini semakin tidak bisa dimengerti. “Ya dulu mah di sini banyak banget, sudah pada berhenti sekarang paling tinggal beberapa,” pungkasnya. (cr5)

Recommended For You

About the Author: Mang Raka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *