Emak-emak Blok L Perumnas Produksi Jamu

PEMBUAT JAMU: Emak-emak Blok L Perumnas Telukjambe, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur, menunjukan jamu buatan mereka, kemarin.

TELUKJAMBE TIMUR, RAKA – Pandemi corona yang belum juga usai bukan berarti menghentikan produktivitas. Seperti yang ditunjukan emak-emak Blok L Perumnas Telukjambe, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur. Kamis (1/10) pagi, mereka nampak asyik membuat jamu bubuk instan.

Salah satu warga yang terlibat Ary Haryati (45) menuturkan, kegiatan ini untuk mengisi waktu luangnya sebab usaha travel yang dijalaninya saat ini cenderung sepi. Ia menuturkan, kegiatan ini merupakan program Balai Besar Peningkatan Produktifitas sejak 23 September hingga 2 Oktober. “Kurang lebih sekitar 16 orang, ada ibu-ibu majelis taklim, ada ibu-ibu kader posyandu,” tuturnya.
Ary mengatakan, mereka hanya dibekali teori selama tiga hari dan sisanya mereka langsung praktik pembuatan jamu bubuk. Rencananya jamu tersebut akan dibagikan ke puskesmas, kantor desa, dan posyandu di sekitaran Kecamatan Telukjambe Timur. “Senang karena kita dipercaya, jadi ilmu juga buat kita jadi tahu proses pembuatan jamu bubuk,” ungkapnya.

Warga lainnya, Farida Lelasari (45) bercerita sebelumnya ia telah aktif dalam kegiatan produksi jamu cair di lingkungan tersebut. Adapun pembuatan jamu bubuk ini juga menjadi ilmu baru baginya, sebab bahan dan cara pembuatan yang berbeda. “Kalau yang cair itu bahannya memang lebih banyak dan gak bisa tahan lama,” ucapnya.

Adapun jamu bubuk yang saat ini tengah dibuat, disebutnya lebih tahan lama karena bentuknya yang bubuk. Namun sebab itulah proses pembuatannya lebih sulit karena mereka harus mengeluarkan tenaga dan waktu ekstra untuk mengaduk rebusan bahan jamu sampai menjadi bubuk. “Kita bisa silaturahmi, kerja bareng-bareng, senangnya kan begitu, insya Allah sudah dapat ilmu ini kita bikin grup untuk bikin jamu ini dan coba dipasarkan,” harapnya.

Sementara itu, Novi Agung Surya (32) mengaku telah sering aktif dalam kegiatan sosial. Sebab itulah ia sangat antusias mengikuti kegiatan ini membantu membuat jamu untuk masyarakat sekitar. “Ilmunya pasti dapat, serunya karena kita satu blok sudah saling kenal jadi sambil curcol, meski bikinnya susah tapi jadi gak kerasa,” kesannya.

Ia menerangkan, ada tiga jenis jamu yang dibuat yakni jahe putih, jahe merah, dan kunyit. Ia sendiri awalnya tidak percaya bahwa air rebusan jamu bisa menjadi bubuk dengan hanya diaduk, itulah ilmu baru yang menurutnya sangat berkesan. “Banyak program sebenarnya dari pemerintah selama Covid-29, tapi harapannya semoga Covid-19 ini cepat berlalu, pelatihan yang kita ikuti semoga bermanfaat, siapa tahu nanti kita bisa jadi pengusaha,” pungkasnya. (din)

Tinggalkan Balasan