Karawang
Trending

Tingkatkan Literasi Kritis, Mahasiswa PBSI Unsika Gelar Acara Gebyar Literasi

RATUSAN mahasiswa memadati Aula Syekh Quro Universitas Singaperbangsa Karawang untuk meningkatkan literasi. Pada 30 April 2026, mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia menggelar acara Gebyar Literasi di aula.

Acara dibuka pukul 09.20 hingga 16.00 WIB dihadiri jajaran dosen serta Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Kegiatan ini bertajuk “Manifestasi Literasi Unggul Dalam Memperkokoh Fondasi Bangsa”.

Kegiatan bertujuan meningkatkan minat literasi mahasiswa, wadah mengekspresikan ide, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memberikan ruang apresiasi, dan mendorong terciptanya budaya literasi yang aktif inovatif, serta berkelanjutan di lingkungan akademik. Koordinator Prodi PBSI Dr. Suntoko M.Pd. Menegaskan pentingnya perubahan pola pikir mahasiswa terhadap budaya literasi.

“Selama ini mahasiswa PBSI lebih terbiasa dengan literasi lisan daripada tulisan. Maka dari itu Mahasiswa PBSI harus mahir berbahasa karena kita adalah orang bahasa,” ujarnya.

Melalui acara ini, mahasiswa berproses menyeimbangkan kecakapan bahasa baik secara lisan maupun tulis. Transformasi ini diharapkan menjadi titik balik dalam mengubah stigma rendahnya literasi di Indonesia melalui aksi nyata di lingkungan kampus.

Rido Wirasatriazi sebagai ketua pelaksana menambahkan, acara Gebyar Literasi bukan hanya menyeimbangkan bahasa lisan atau tulisan saja, “acara ini kami hadirkan sebagai bentuk komitmen bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi dasar dalam membentuk karakter, pola pikir, serta sikap generasi muda yang berintegritas, kritis, dan bertanggung jawab,” ucapnya.

Acara Gebyar Literasi memadukan Sarasehan, Gelar wicara, pameran karya, pameran zine lomba video mengulas buku dan pagelaran mahasiswa PBSI. Acara dipandu Eva Amalia dan Enuh sebagai pembawa acara, serta menghadirkan pemateri yaitu Rykaart El Shirazy (Duta Genre Karawang) dan Risma Dewi sebagai (Editor).

Acara berlangsung interaktif. Pada saat sesi tanya jawab, Rykaart El Shirazy atau biasa disapa El, memaparkan materi terkait tantangan literasi di dunia yang penuh informasi sehingga mahasiswa perlu meningkatkan pikiran kritis melalui literasi.

“Terdapat 1890 hoaks yang tersebar di Indonesia,” paparnya. El menyampaikan Giat ini bermanfaat dan relevan dengan kondisi sekarang yang dipenuhi informasi. “Kegiatan ini bagus karena relevan dengan kondisi saat ini, sebab hoaks sudah tersebar ke mana-mana sehingga mahasiswa dan remaja perlu mengatasi hal tersebut. Salah satunya dengan acara di Aula Syekh Quro saat ini,” tuturnya.

Selain itu terdapat materi tentang proses penyuntingan naskah dari Risma Dewi sebagai pegiat di bidang penyuntingan. Penyuntingan penting bagi mahasiswa dan para penulis agar setiap kata, kalimat, dan tulisan tersusun dengan rapi serta mudah dibaca. Risma mengungkapkan, “Penyuntingan sangat krusial agar karya lebih maksimal dan dapat diserap oleh pembaca,” paparnya.

Materi ini menjadi bekal dasar mahasiswa agar karya dapat dibaca dengan mudah. Risma mengingatkan bahwa editor pertama dari buah karya pikiran adalah diri sendiri.

“Penyuntingan ini sangat penting karena editor pertama dari naskah adalah diri sendiri sehingga perlu mempunyai bekal editor dan penyuntingan, agar naskah mudah dibaca,” tuturnya. Salah satu peserta menyampaikan sesi materi kali ini sangat mudah dipahami. “Materi pada kali ini sangat interaktif dan mudah dicerna,” ujar Nazwa Suhaemi mahasiswa PBSI semester 2.

Tidak hanya materi, sesi pameran karya dari mahasiswa PBSI juga membuat para peserta semakin ramai dan banyak mendapatkan apresiasi. Pameran karya yang dibuat mahasiswa PBSI berupa zine, puisi, sketsa gambar, cerpen, dan dongeng. Hal tersebut menjadi praktik nyata sesuai tema acara, yakni Manifestasi Literasi Unggul dalam Memperkokoh Fondasi Bangsa. 

Penggagas acara adalah Kurnia Dewi Nurfadilah salah satu dosen di PBSI Unsika. Kurnia berharap dengan acara ini mahasiswa lebih percaya diri dengan karya-karyanya. “Acara ini adalah bentuk perayaan literasi mahasiswa PBSI agar lebih percaya diri menunjukkan buah karya yang dihasilkan,” tuturnya. Vinka Widiya sebagai juara Kategori Umum lomba video mengulas buku menyampaikan harapan agar acara Gebyar Literasi terus dipertahankan dan dikembangkan, “Semoga acara Gebyar Literasi bisa menampilkan lebih banyak narasumber yang variatif dan bisa lebih baik lagi,” tandasnya.

Related Articles

Back to top button