HEADLINE
Trending

Lumbung Padi Butuh Air

BBWS Didorong Percepat Pengerukan Sedimentasi

KARAWANG, RAKA– Bupati Karawang Aep Syaepuloh meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum untuk mempercepat pengerukan sedimentasi di sejumlah aliran sungai dan saluran irigasi guna memastikan ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

“Kami mendorong agar BBWS Citarum dapat menjalankan tugas pokok dan kewenangannya, sehingga pengerukan sedimentasi sungai dan saluran irigasi dapat dipercepat,” kata Aep. Menurut Aep, percepatan pengerukan sedimentasi menjadi langkah strategis untuk menjaga kelancaran distribusi air, terutama bagi para petani agar dapat menjalankan aktivitas pertanian dengan lebih lancar dan optimal.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Karawang berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor dalam rangka menjaga ketahanan dan ketersediaan sumber daya air secara berkelanjutan.

“Kami terus memperkuat sinergi lintas sektor untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga bagi kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Sebagai bentuk keseriusan, Bupati Karawang bersama jajarannya telah mengunjungi kantor BBWS Citarum di Bandung pada Selasa (16/12).

Dalam pertemuan tersebut, dibahas kondisi kebutuhan air yang terus meningkat, khususnya untuk sektor pertanian, permukiman, dan industri. Aep menyampaikan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan air, diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan guna mewujudkan kemandirian air di wilayah Karawang.

“Air merupakan kebutuhan utama masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah berkepentingan untuk memastikan seluruh wilayah mendapatkan akses air yang mudah dijangkau, terjangkau secara ekonomi, serta tersedia secara berkelanjutan,” katanya.

Ia mengungkapkan, kebutuhan air di Karawang tergolong tinggi, meskipun belum terdapat angka pasti. Hal tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat. Pada tahun 2025, jumlah penduduk Kabupaten Karawang diperkirakan telah melampaui 2,6 juta jiwa.

“Tingginya kebutuhan air di Karawang didorong oleh aktivitas domestik rumah tangga, sektor industri, serta pertanian,” kata Aep. Pemerintah Kabupaten Karawang berharap percepatan pengerukan sedimentasi sungai dan saluran irigasi dapat segera direalisasikan, sehingga ketersediaan air bagi masyarakat dan petani tetap terjamin.

Sementara itu di Tirtajaya, ribuan hektare sawah kini hanya bergantung pada hujan. Dari total sekitar 1.000 hektare sawah di Desa Tambaksumur, sedikitnya 200 hektare di Dusun Jatimulya dan Cinara tidak lagi teraliri air. Kondisi serupa juga terjadi di Tambaksari dengan luas sawah 350 hektare. Air yang seharusnya mengalir dari saluran sekunder hingga tersier berhenti di tengah jalan karena pendangkalan berat dan tumpukan sampah.

“Sudah kami bersihkan lewat gotong royong, tapi tidak cukup. Ini butuh alat berat. Kami sudah sampaikan ke pihak kecamatan dan kabupaten, tapi belum ada tindakan nyata,” ujar Amin, Kepala Desa Tambaksumur dikutip pada beberapa wkatu lalu.

Gotong royong Kepala Desa Tambaksumur bersama perangkat desa, mulai dari Dusun Tamiang, Desa Pisangsambo hingga Tambaksumur, hanya mampu membersihkan sisa-sisa ringan di permukaan. Sedimentasi tebal dan endapan lumpur yang menahun membuat saluran nyaris tak berfungsi.

“Kalau tidak segera dinormalisasi, bisa gagal panen. Ini bukan sekadar keluhan, tapi ancaman nyata bagi ketahanan pangan daerah,” tegas Suhanda (54), petani Dusun Jatimulya.(jpn/mra)

Related Articles

Back to top button